GUNUNGKIDUL – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul mencatat ada 104 kerusakan terdampak bencana selama November. Hujan deras disertai angin kencang memicu terjadinya bencana pohon tumbang, tanah longsor, dan banjir.
Kepala BPBD Gunungkidul Purwono mengatakan, terdapat 21 kejadian tanah longsor yang tersebar di beberapa kapanewon. Tertinggi terjadi di Ngawen sebanyak 19 titik. Kejadian angin kencang tercatat sebanyak 75 titik di seluruh kapanewon. Jumlah tertinggi di Panggang dengan 12 titik.
"Sebagian besar kerusakan akibat angin kencang bersifat ringan, seperti genting jatuh atau seng terlepas,” ujar Purwono kepada awak media Miinggu (1/12/2024).
Dalam beberapa kejadian, lanjutnya, bantuan logistik langsung didistribusikan untuk mendukung kegiatan kerja bakti di wilayah terdampak. Penanganan juga melibatkan gotong royong warga setempat untuk memperbaiki kerusakan. Meski demikian, sampai saat ini tidak ada laporan korban jiwa atau luka serius akibat bencana tersebut.
Bencana hidrometeorologi, dipengaruhi meningkatnya curah hujan pada Oktober-November. Naiknya curah hujan pun akan diperkirakan terjadi hingga Februari 2025.
Oleh karena itu, upaya kesiapsiagaan telah dilakukan. Mulai dari kesiapan logistik berupa paket makanan darurat, terpal, seng, dan alat pendukung kerja bakti seperti linggis. Selain itu, posko siaga bencana di BPBD induk juga beroperasi 24 jam untuk menerima laporan dan merespons kebutuhan masyarakat dengan cepat. Pihaknya juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat terjadi cuaca ekstrem.
"Memantau informasi cuaca dari BMKG dan melakukan tindakan preventif,” ucapnya.
Bisa dilakukan dengan membersihkan saluran air, memangkas pohon yang berpotensi tumbang, serta mengamankan atap rumah dari potensi kerusakan akibat angin kencang. BPBD Gunungkidul juga telah menetapkan menetapkan status siaga bencana hidrometeorologi sejak 21 November hingga 2 Januari 2025. (ndi/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita