GUNUNGKIDUL - Pembangunan pabrik es portable di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Gesing segera beroperasi pada akhir November mendatang. Pabrik senilai Rp 1,5 Miliar itu diperkirakan dapat memproduki es balok mencapai 1 ton per hari.
Pabrik es balok ini diproyeksikan untuk medndukung aktivitas perikanan lokal di PPP Gesing Gunungkidul yang baru saja diresmikan. Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Gunungkidul Wahid Supriyadi mengungkapkan, es balok sangat diperlukan untuk menjaga kualitas hasil tangkapan nelayan. Dengan sistem rantai dingin yang terjaga, ikan yang dihasilkan nelayan diharapkan tetap segar hingga sampai ke konsumen.“Setiap kali produksi, pabrik dapat menghasilkan satu ton es balok dalam waktu sepuluh jam. Jika diperlukan, kapasitas produksi bisa ditingkatkan dengan operasi 24 jam,” ujar Wahid, Senin (25/11).
Pabrik tersebut akan dikelola Koperasi Panjolo Karto Mukti. Mereka merupakan bagian dari komunitas nelayan lokal. Pendekatan ini diharapkan memberikan manfaat ekonomi langsung bagi nelayan di sekitar lokasi, sekaligus meningkatkan efisiensi distribusi es balok."Uji coba akan dijadwalkan pada Kamis (28/11) nanti, kami sedang menunggu pengiriman mesin produksi dari KKP RI," jelasnya.
Untuk penyediaan listrik dan suplai air, bekerjasama dengan PLN dan PDAM Tirta Handayani. Pabrik es portable pelabuhan Gesing merupakan hibah dari KKP RI, menunjukkan dukungan nyata pemerintah pusat terhadap pengembangan sektor perikanan daerah. Pemberian fasilitas ini diharapkan mampu mendorong efisiensi dan produktivitas nelayan, sekaligus menjadi inspirasi bagi daerah lain.
Wahid menjelaskan, kebutuhan es balok di wilayah Gunungkidul, yang mencapai 20 ton per hari, selama ini belum terpenuhi sepenuhnya.Pabrik es balok milik Pemkab Gunungkidul yakni, Sari Tirta Mina, hanya mampu memasok setengah dari kebutuhan tersebut.
Pengurus Kelompok Nelayan Panjolo Mulyo Sukadi menjelaskan, saat musim ikan, kebutuhan es balok untuk menjaga kesegaran hasil tangkapan nelayan meningkat drastis. Sebab, satu tengkulak saja bisa membutuhkan hingga 30 balok es dalam satu kali pengambilan.
Jika dihitung secara keseluruhan, kebutuhan es balok untuk beberapa tengkulak yang beroperasi di wilayah tersebut dapat mencapai sekitar 100 balok dalam satu kali distribusi. Selama ini, mereka harus membeli es balok dari Pantai Depok dengan harga Rp 30.000 per balok yang beratnya mencapai 60 kilogram. “Kondisi ini cukup memberatkan karena selain harganya mahal, kami juga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk transportasi,” ujar Sukadi. (ndi/din)
Editor : Din Miftahudin