RADAR JOGJA - Awal musim penghujan di Gunungkidul selalu membawa cerita unik. Salah satunya adalah kemunculan ribuan ulat jati, atau yang oleh warga lokal disebut ulat besi.
Fenomena ini muncul setahun sekali, biasanya di sekitar pohon jati yang daunnya mulai rontok.
Bagi sebagian orang, ulat ini menimbulkan rasa takut, namun bagi lainnya, justru menjadi momen yang dinanti.
Ulat Jati Bergelantungan, Wisatawan Diminta Waspada
Ulat jati sering terlihat bergelantungan di pohon atau turun ke tanah, terutama di kawasan yang banyak ditumbuhi pohon jati.
Meski tampak tidak berbahaya, keberadaan ulat ini bisa menjadi gangguan bagi pengunjung maupun warga setempat.
Salah satu yang sering dikeluhkan adalah lendir atau iler ulat jati yang sulit dihilangkan jika menempel pada pakaian, terutama pakaian terang.
Ulat Besi Jadi Sajian Khas Gunungkidul
Uniknya, di balik kesan mengerikan, ulat besi justru menjadi salah satu makanan khas Gunungkidul.
Selain belalang goreng dan ungkrung (kepompong ulat jati), ulat besi dianggap sebagai kuliner ekstrem yang banyak dicari, terutama oleh pecinta makanan tradisional.
Ulat besi dikenal kaya protein dan biasanya diolah dengan cara digoreng atau dibumbui pedas. Teksturnya yang renyah dan gurih membuatnya semakin diminati.
Simbol Kehidupan Alam
Bagi masyarakat Gunungkidul, musim ulat jati tidak hanya membawa tantangan, tetapi juga simbol siklus kehidupan alam.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana warga lokal memanfaatkan kekayaan alam, bahkan dari sesuatu yang awalnya dianggap mengganggu.
Tips Bagi Pengunjung di Musim Ulat Jati
Bagi wisatawan yang ingin mengunjungi Gunungkidul selama musim ulat jati, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
1. Pakai baju gelap untuk menghindari noda iler/liur ulat yang sulit dibersihkan.
2. Hindari parkir di bawah pohon jati, karena ulat sering jatuh dari dahan.
3.Jika tertarik mencoba kuliner ulat besi, kunjungi pasar tradisional atau tempat makan lokal yang menyediakan.
Fenomena ulat jati ini menjadi salah satu daya tarik unik Gunungkidul yang selalu menarik perhatian, baik dari sisi tradisi, ekosistem, hingga kuliner khas. **
(Windu, Berbagai sumber)
Editor : Iwa Ikhwanudin