GUNUNGKIDUL - Cuaca ekstrem tengah melanda wilayah Gunungkidul. Potensi gelombang tinggi di objek wisata pantai turut mengancam keselamatan wisatawan. Apalagi, pantai menjadi wisata unggulan di Bumi Handayani.
Untuk itu, Dinas Pariwisata (Dispar) Gunungkidul mengimbau kepada wisatawan untuk menjauhi bibir pantai ketika tenga cuaca ekstrem. Bibir pantai menjadi wilayah rawan membahayakan keselamatan wisatawan.
Kepala Bidan Pengembangan Destinasi Dispar Gunungkidul Supriyanta mengatakan, perubahan cuaca mempengaruhi tibkat kunjungan. Begitu pula dengan keselamatan wisatawan di objek wisata pantai."Hujan deras maupun gelombang tinggi akhir-akhir ini sering terjadi, wisatawan kami imbau untuk tidak berada di bibir pantai," ujar Supriyanta kepada awak media, Minggu (17/11).
Supriyanta menuturkan, Badan Meteorolgi Klimatologi dan Geofisika maupun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) belum mengeluarkan peringatan khusus terkait cuaca ekstrem di objek wisata pantai. Akan tetapi, kewaspadaan menjadi faktor penting ketika mengunjungi pantai saat cuaca ekstrem.
Wisatawan diminta untuk selalu memeriksa prakiraaan cuaca dari BMKG, menghindari area rawan bencana, begitupula bibir pantai. Apabila sedang terjadi cuaca ekstrem, kata Supriyanta, wisatawan sebaiknya menunda perjalanan terlebih dahulu."Ikuti dan patuhi instruksi petugas dan rambu-rambu keselamatan selama berada di objek wisata, kawasan Pantai Selatan tidak diperkenankan untuk berenang mengingat gelombang dan ombak yang besar berpotensi membahayakan keselamatan," tuturnya.
Koordinator Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah Operasi II Pantai Baron Marjono menuturkan, berdasarkan pantauan gelombang Pantai Selatan Gunungkidul dalam kondisi landai. Kenaikan gelombang mencapai 2 meter."Sejauh ini objek wisata pantai masih aman dikunjungi, namun wisatawan tetap waspada," ujar Marjono.
Marjono menuturkan, selama cuaca ekstrem melanda, gelombang Pantai Selatan mulai naik. Pengunjung diharapkan dapat mematuhi segala imbauan dari petugas keselamatan demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. (ndi)
Editor : Din Miftahudin