Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dinas Kesehatan Catat 21 Kasus Leptosirosis di Gunungkidul, Waspadai Penyebaran Bakteri Musim Hujan, Khususnya bagi Petani

Andi May • Sabtu, 16 November 2024 | 05:00 WIB
Kepala Dinkes Gunungkidul Ismono
Kepala Dinkes Gunungkidul Ismono

GUNUNGKIDUL - Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul mencatat terdapat 21 kasus leptosirosis sepanjang tahun 2024. Daerah yang menjadi fokus penyebarannya yakni di Kapanewon Semin, Tanjungsari, Tepus, Nglipar, dan Karangmojo.

Kepala Dinkes Gunungkidul Ismono mengatakan, dari 21 kasus tersebut tidak ada yang meninggal dunia. Namun, peningkatan aktivitas pertanian selama musim penghujan menjadikan petani sebagai kelompok rentan tertular.

Mengingat penyakit leptosirosis berasal dari bakteri leptospira yang ditularkan melalui air atau genangan yang terkontaminasi urine tikus. "Deteksi dini dan pengobatan secepat mungkin adalah yang terbaik untuk mencegah komplikasi, fasilitas kesehetan sudah tersedia obat dan rapid test leptospira sebagai penunjang," ujar Ismono kepada awak media, Jumat (15/11/2024).

Secara umum, Ismono menjelaskan, gejala leptosirosis meliputi demam tinggi, nyeri sendi terutama di betis, produksi urine sedikit dan berwarna keruh serta konjungtiva suffusion.

Kendati demikian, pihaknya memastikan tiap faskes dilengkapi dengan obat-obatan dan alat deteksi cepat untuk menangani pasien bergejala leptosirosis. "Musim hujan membawa risiko lebih besar penyebaran leptosirosis. Sebab, genangan air menjadi media penyebaran bakteri terutama di sawah yang merupakan habitat tikus," tuturnya.

Dia pun mengimbau kepada petani untuk menggunakan pelindung seperti sepatu boot dan sarung tangan saat beraktivitas di sawah. Serta menjaga kebersihan lingkungan.

Berbagai upaya pencegahan dan penanganan yang telah dilakukan petugas kesehatan. Seperti peningkatan kapasitas tenaga kesehatan di wilayah lokus, dan penyelidikan epidomologi untuk mengantisipasi penularan. Serta penyimpanan logistik obat-obatan dan alat deteksi dini kepada pasien bergejala.

"Kami terus mengedukasi masyatakat agar segera memeriksakan diri ke faskes jika mengalami gejala, dengan langkah cepat dan dukungan masyarakat penyebaran leptosirosis dapat ditekan secara optimal," tandasnya. (ndi/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Semin #2024 #Pertanian #dinkes #dinas kesehatan #bakteri leptospira #kasus leptospirosis #Gunungkidul #Tanjungsari #Nglipar #Musim penghujan #Tepus #kapanewon #Karangmojo