GUNUNGKIDUL - Padukuhan Wotawati, Kalurahan Pucung, Kapanewon Girisubo, Gunungkidul mulai bersolek. Permukiman warga yang terletak di Lembah Bengawan Solo Purba itu diproyeksikan menjadi daya tarik wisata dengan menampilkan bangunan khas ala Kerajaan Majapahit dan Mataram.
Padukuhan Wotawati dikenal sebagai wilayah yang mengalami waktu siang begitu cepat. Bagaimana tidak. Terletak di antara perbukitan membuat wilayah itu terlambat mendapatkan sinar matahari di waktu pagi.
Lurah Pucung Estu Dwiyono mengatakan, pihaknya tengah melakukan penataan ulang puluhan rumah warga di Padukuhan Wotawati. Berasal dari anggaran Dana Keistimewaan (Danais) senilai Rp 5 Miliar proyek tengah digodok secara bertahap. "Jadi untuk progres penataan fisik Padukuhan Wotawati sudah berjalan dengan pembangunan fasad, pagar dan joglo," ujar Estu, Minggu (10/11).
Bangunan khas ala kerajaan mulai dibangun. Sejumlah pagar rumah warga dibangun dengan bata merah serta gapura. Begitu pula dengan fasad dan joglo. Setidaknya ada 79 rumah warga yang tengah ditata. Untuk pagar telah mencapai 98 persen, fasad 25 persen dan joglo 30 persen. "Penataan kawasan terpadu, secara desain banyak yang menilai bangunan Kerajaan Majapahit," tuturnya.
Dia mengakui, penataan tidak dapat dilakukan sepenuhnya. Sebab beberapa rumah merupakan bangunan permanen. Namun begitu, pihaknya berupaya agar desain senada dengan rumah-rumah warga. Estu menuturkan, penataan tersebut demi menunjang status desa wisata. Untuk itu, akses wisata untuk sementara diberhentikan sementara selama penataan. "Rencana kami, untuk melaunching kembali itu diperkirakan 2026 nanti," jelasnya.
Baca Juga: Manfaat Kerang Bagi Kesehatan Tubuh Yang Jarang Diketahui
Rumah-rumah warga yang telah ditata nantinya dapat menjadi homestay bagi wisatawan yang berkunjung ke Padukuhan Wotawati. Bukan hanya penataan fisik, pembangunan akan diintegrasikan dengan pertanian dan peternakan di Lembah Bengawan Solo Purba.
Jadi wisatawan datang ke sini bukan hanya sekedar foto-foto. Melainkan dapat menikmati pengalaman mengolah tanaman hingga ternak warga setempat. “Serta menyediakan lokasi camping ground," ucapnya. (ndi/din)
Editor : Din Miftahudin