GUNUNGKIDUL - Hingga akhir Bulan Oktober 2024, tangkapan nelayan di Gunungkidul baru mencapai 67 persen atau sekitar 2.700 ton. Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Gunungkidul menyebut, target tahunan mencapai 4.106 ton.
Kepala Bidang Perikanan Tangkap DKP Gunungkidul Wahid Supriyadi mengungkapkan, ada beberapa faktor yang mempengaruhi prodiktivitas tangkapan nelayan, salah satunya iklim yang tidak menentu.
"Cuaca dan gelombang terjadi beberapa waktu belakangan sangat mengganggu produktivitas tangkapan nelayan, tapi kami masih optimistis dapat mencapai target hingga akhir tahun ke depan," ujar Wahid kepada awak media, Minggu (3/11).
Dikatakannya, produksi tangkapan nelayan beragam, seperti ikan, lobster maupun rumput laut. Produksi tersebut sesuai dengan yang dipasok di beberapa Tempat Pelelangan Ikan di Pantai Selatan Gunungkidul."Produksi tangkapan nelayan mulai dari TPI Baron, Ngerenehan, Gesing, Sadeng, Ngandong dan Siyung," ucapnya.
Wahid juga menjelaskan, produktivitas tangkapan nelayan lebih banyak saat musim hujan dibandingkan dengan musim kemarau. Untuk itu, pihaknya memprediksi tangkapan nelayan dapat melonjak signifikasi di dua bulan ke depan.
Wahid juga menyebut, nelayan aktif di Gunungkidul mencapai 2.276 orang. Untuk ikan laut sendiri, rata-rata penjualan ikan berkisar Rp 23 ribu per-kilogramnya."Berbagai upaya juga telah kami galakkan untuk memenuhi target tangkapan Tahun 2024, seperti memberikan bantuan peralatan tangkap kepada nelayan, kapal dan sejumlah fasilitas," tuturnya.
Selain itu, beroperasinya Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Gesing dinilai dapat membantu pasokan tangkapan nelayan di Gunungkidul. Pihaknya juga mengakui, jumlah tangkapan nelayan per-triwulannya relatif berbeda.
"Cuaca yang semakin kondusif memasuki akhir tahun, kami perkirakan akan terjadi peningkatan signifikan terhadap tangakapn nelayan," tandasnya. (ndi)
Editor : Din Miftahudin