GUNUNGKIDUL – Penemuan gua dengan Stalaktit dan Stalagmit saat pembangunan Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS), Kalurahan Planjan, Saptosari, Gunungkidul jadi objek penelitian.
Pakar Geomorfologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Eko Haryono menyebut, berdasarkan video yang telah dilihatnya, stalagmit dari gua tersebut sebaiknya tidak diambil. “Batu yang terdapat di dalam gua bukanlah kategori logam mulia yang memiliki nilai jual,” katanya, Jumat (18/10).
Menurutnya, kemunculan gua tersebut merupakan hal yang wajar. Sebab, perbukitan di Gunungkidul merupakan kawasan batu gamping yang berpotensi memiliki gua bawah tanah. "Karena di dalamnya ada proses pelarutan batu gamping, yang tidak mudah untuk ditemui," ujar Eko.
Baca Juga: Soft Opening Villa Tiga Negri Yogyakarta Gelar Perayaan dan Pengajian Bersama Anak Yatim
Adanya proses pengikisan memicu terbentuknya lembah-lembah yang menjadi gua. Pembentukan mulut gua sendiri, kata Eko, bisa terjadi karena proses alamiah maupun aktivitas manusia di sekitar gua tersebut.
Contohnya, kata dia, seperti mengepras bukit karst atau batu gamping berpotensi terpotongnya gua sehingga muncul mulut gua. “Jadi fenomena munculnya gua tersebut merupakan hal yang wajar," ucapnya.
Guru Besar Fakultas Geografi UGM itu menjelaskan, pengikisan sehingga membentuk gua itu membutuhkan waktu ratusan ribu tahun lamanya. Namun, begitu untuk memastikan usia dari terbentuknya gua tersebut harus adanya penelitian lebih lanjut.
Baca Juga: Sekolah Dasar di Kota Wonosari Gunungkidul Bakal Jadi Uji Coba Makan Siang Gratis
Baca Juga: Sopir Rombongan Islamic Center Bin Baz Bantul Selamat, Diketahui Warga Yogyakarta Masih 19 Tahun
Gua sendiri, kata Eko, biasanya terbentuk di bawah permukaan air tanah. Terkhusus gua yang berbentuk horisontal. "Saya nanti bersama tim akan melakukan penelitian geofisika, pemetaan gua, mengetahui iklim mikro di dalamnya dan potensi yang ada," tuturnya.
Sebelumnya, warga dikejutkan dengan kemunculan mulut gua saat pengerjaan JJLS di lokasi tersebut. Tak sedikit, warga masuk ke dalamnya pasca penemuan gua. Pemerintah Kalurahan Planjan telah menutup mulut gua dengan maksud menjaga kealamian dan penelitian di dalam gua tersebut. (ndi/pra)
Editor : Heru Pratomo