GUNUNGKIDUL - Pemanfaatan Artificial intelligence (AI) juga dilakukan untuk skrining Tuberkulosis (TBC) di Puskesmas Ponjong 1, Gunungkidul Selasa (10/9/2024). Diagnosis TB menggunakan alat Tes Cepat Monokuler (TCM).
Direktur Zero TB Jogja dr Rina Triasih mengatakan, pemeriksaan dini pada masyarakat dapat meningkatkan angka penyebaran TBC di Indonesia. “Makanya sekarang kami semua jemput bola, skrining di awal pakai AI sehingga bisa menangani kasus ini dengan tepat," ujar Rina.
TBC, lanjut dia, jika sudah menjangkiti tubuh, penyembuhannya akan lama dan butuh komitmen serius. Banyak orang yang merasa sudah enakan, lalu tidak melanjutkan pengobatan. “Akhirnya enggak sembuh-sembuh dan parahnya bisa menulari yang lain,” jelas dia.
Pihaknya memastikan, program pemeriksaan massal TBC dilakukan secara akurat, efisien, dan gratis. Mendeteksi kasus TBC sejak dini, sehingga pengobatan dapat segera dilakukan dan mencegah penularan. Foto rontgen dibantu dengan teknologi AI meningkatkan akurasi diagnosis. “Sehingga mengurangi risiko kesalahan terapi pengobatan, pemeriksaan ini sepenuhnya gratis bagi masyarakat," jelasnya.
Program ini diharapkan dapat memberikan edukasi mengenai pengobatan TBC yang tersedia secara cuma-cuma di fasilitas kesehatan. Sehingga masyarakat bisa berpartisipasi dalam skrining atau segera memeriksakan diri bila mengalami gejala TBC. Seperti batuk lama atau disertai dengan penurunan berat badan, keringat malam, atau demam naik turun.
Pihaknya juga berharap, program ini dapat terlaksana dengan baik sehingga dapat mendukung program pemerintah dalam eliminasi TBC pada 2030. Yaitu menurunkan insiden TBC menjadi 65/100.000 penduduk agar tetap berjalan sesuai dengan trek yang seharusnya.
Kepala Puskesmas Ponjong 1 Kuncoro mengatakan, terdapat ratusan orang suspek TBC dengan 20 di antaranya dinyatakan sebagai penderita. Parahnya lagi, penderita TBC mayoritas berusia produktif. Mulai dari 25 tahun sampai 50 tahun. "Setiap pasien TB yang kami tangani memiliki masing-masing pendamping minum obat, upaya pengendalian sebaran TBC juga mulai dari rumah ke rumah," ujar Kuncoro kepada awak media.
Menurut dia, perlu pengobatan yang mumpuni untuk penanganan TBC. Pihaknya mengakui, lansia memiliki risiko tinggi terhadap penyakit TBC. "Apalagi adanya penyakit-penyakit tambahan, untuk usia tua memiliki risiko tinggi," jelasnya. (ndi/pra)
Editor : Sevtia Eka Novarita