RADAR JOGJA - UPT Pemadam Kebakaran Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul mencatat terjadi 45 kebakaran selama kemarau melanda. Terbanyak pada puncak musim kemarau dengan 27 kejadian.
Dari 27 kejadian itu, mayoritas kebakaran terjadi di lahan-lahan kosong yang memiliki pohon-pohon dan tanaman yang telah kering sehingga mudah dilahap si jago merah.
Kepala UPT Damkar BPBD Gunungkidul Handoko mengatakan, kebakaran lahan sering ditemui pada puncak musim kemarau. Pihaknya mengidentifikasi kebakaran disebabkan kesengajaan warga yang akan mulai menanam saat peralihan musim dari kemarau ke penghujan.
"Pada Juni hanya lima kejadian, Juli 13 kejadian dan Agustus meningkat signifikan sebanyak 27 kejadian. Warga sengaja membakar lahan untuk kembali menanam saat peralihan musim," ujar Handoko kepada awak media kemarin (6/9).
Dia menyebut, kebiasaan warga Gunungkidul menyiapkan lahan pada musim tanam dengan cara membakar. Padahal cara itu memiliki risiko tinggi yang dapat membahayakan pemukiman warga.
"Mereka tidak mau susah. Memilih membakar lahan sebagai cara yang cepat. Ketika api sudah terasa merembet ke pemukiman baru menghubungi kami," ucapnya.
Apalagi pada peralihan musim, angin yang cukup besar dapat memicu kobaran api yang cukup besar dan membahayakan warga sekitar. Padahal, membakar lahan sudah dilarang oleh pemerintah.
Dia menjelaskan, membakar lahan dan hutan dapat merusak lingkungan dan ekosistem yang ada. Api yang tidak dapat ditangani secara mandiri dapat berpotensi menimbulkan korban maupun kerugian materil.
"Sejauh ini kami belum menindak warga yang sengaja membakar lahan. Kami hanya berikan teguran untuk cara seperti itu tidak dilakukan lagi," tegasnya.
Baca Juga: Rony Wijaya Miliki Kekayaan Rp 25,4 Miliar, Ungguli Bakal Calon Kepala Daerah Bantul 2024 Lainnya
Salah satu penyebab lain kejadian kebakaran yakni ada warga yang membakar sampah tanpa pengawasan. Api seketika dapat merembet ke barang-barang sekitar yang mudah terbakar.
"Biasanya mereka membakar sampah di dekat rumah maupun kandang ternak tanpa diawasi. Sehingga api merembet dan memunculkan kerugian materil," ucapnya.
Penanganan sejumlah kejadian kebakaran melibatkan petugas damkar dan warga-warga sekitar. Handoko menyebut, jarak yang jauh dan medan yang terjal menjadi salah satu kendala dalam pemadaman kebakaran lahan.
"Kami mengimbau agar masyarakat tidak lagi membakar lahan, risikonya sangat tinggi," imbaunya. (ndi/laz)
Editor : Heru Pratomo