RADAR JOGJA - Upaya Pemkab Gunungkidul menurunkan angka stunting melalui program konvergensi kesehatan menunjukkan hasil positif. Berdasar data Survei Status Gizi Indonedia (SSGI) dan Sistem Kesehatan Indonesia (SKI), angka stunting di Bumi Handayani pada 2023 di angka 22,2 persen.
Dibanding setahun sebelumnya, penurunan angka stunting pada 2023 cukup signifikan. Bagaimana tidak, angka stunting pada 2022 mencapai 23,5 persen. Pada 2021 di angka 20,6 persen.
Bupati Gunungkidul Sunaryanta menekankan pentingnya kolaborasi bersama dalam menangani stunting. Lantaran dampak stunting tidak hanya memengaruhi kesehatan fisik anak-anak. Melainkan juga kualitas sumber daya manusia di masa depan.
“Pencegahan stunting adalah prioritas utama dalam pembangunan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat,” tegas Sunaryanta Minggu (11/8/2024).
Di antara upaya menekan angka stunting, Sunaryanto mencontohkan, fokus pada seribu hari pertama kehidupan. Yakni mulai masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Caranya dengan membentuk tim percepatan penanganan stunting (TPPS) dari tingkat kalurahan hingga kabupaten.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul Ismono menyebut di antara upaya lain adalah pemantauan status gizi melalui Gerakan Serentak Stunting. Juga penimbangan serentak pada Juni dan Agustus.
“Kami juga memberikan makanan tambahan (PMT) kepada balita stunting, suplemen vitamin A, serta melakukan pemetaan hasil penimbangan hingga ke tingkat padukuhan untuk intervensi lebih lanjut,” katanya.
Menurutnya, dinkes juga aktif memberikan edukasi tentang pentingnya ASI eksklusif bagi bayi dan menyediakan PMT bagi ibu hamil yang mengalami kekurangan gizi kronis. Program pemberian tablet tambah darah kepada remaja putri juga termasuk dalam upaya ini.
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kelurahan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Gunungkidul Sujarwo menambahkan bahwa TPPS telah dibentuk di tingkat kabupaten, 18 kapanewon, dan 144 kalurahan.
“Kami juga telah membentuk 356 tim pendamping keluarga yang terdiri dari tenaga medis, institusi masyarakat pedesaan, dan PKK,” jelas pria yang juga menjabat sekretaris TPPS Kabupaten Gunungkidul ini.
Sujarwo menekankan pentingnya konvergensi tingkat keluarga dalam pendekatan penurunan stunting. Tujuannya agar tiap keluarga berisiko stunting bisa teridentifikasi, terdaftar, menerima manfaat, dan patuh terhadap program. (*/zam)
Editor : Satria Pradika