Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dosen STIPRAM Jogja Sebut, Tren dan Prilaku Wisatawan Asing 2024 Alami Perubahan

Gunawan RaJa • Minggu, 4 Agustus 2024 | 18:52 WIB
RILEKS - Partisipan Press Trip Trip UNWTO (United Nations World Tourism Organization) saat berinteraksi dengan pengelola wisata kawasan Geopark Gununsewu beberapa waktu lalu  (doc/Radar Jogja)
RILEKS - Partisipan Press Trip Trip UNWTO (United Nations World Tourism Organization) saat berinteraksi dengan pengelola wisata kawasan Geopark Gununsewu beberapa waktu lalu (doc/Radar Jogja)

JOGJA - Pasca pandemi Covid-19, tren pariwisata terus mengalami pergeseran. Agar bisa survive di 2024 pihak terkait di wilayah Jogjakarta perlu update perkembangan tren wisata dan prilaku wisatawan, terutama turis asing.

DosenSekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo (STIPRAM) Jogja Agung Sulistyo mengatakan pihaknya mengamati tren perkembangan pariwisata dari tahun ke tahun. Di 2018 misalnya, trennya perubahan wisata massal menuju minat khusus.

"Dua tahun kemudian fokus pengembangan wisata memanfaatkan teknologi digital, karena tidak lepas dari situasi pandemi pada saat itu," kata Agung pada Minggu (4/8/2024).

Di 2022 bergeser menjadi green tourism atau pariwisata herbasis hijau. Sektor-sektor yang memiliki basis hijau seperti ekowisata, desa wisata punya kans tinggi.

"Sementara tahun ini trennya wisata kolaborasi," ujarnya.

Peluang tersebut dapat diambil dengan menggabungkan paket-paket gabungan antara bisnis dengan wisata.

“Seperti membuat paket-paket gabungan antara bisnis dan leisure yakni, konsep yang menggabungkan perjalanan bisnis dengan aktivitas rekreasi," jelasnya.

Mengacu pada instrumen yang digunakan kementerian pariwisata berupa pariwisata berkelanjutan, perlu wisata kolaborasi perlu mengoptimalkan banyak aspek.

"Yakni ekonomi, sosial, budaya, pemberdayaan masyarakat," ucapnya.

Dia melihat tren positif wisata asing di Jogjakarta, meskipun belum apple to Apple jika berkaca pada saat pandemi Covid-19.

"Sedikitnya ada dua alasan wisatawan asing bisa sampai di Indonesia khususnya Jogjakarta," bebernya.

Pertama, adanya informasi positif daerah tujuan wisata. Mereka bisa memperoleh sumber data melalui publikasi atau promosi para pelaku wisata maupun pemberitaan.

"Kedua pemasaran mouth to mouth atau mulut ke mulut," terangnya.

Wisatawan asing bercerita pengalaman setelah melakukan kunjungan ke destinasi wisata. Kemudian semakin meluas pada saat disebarluaskan melalukan platform media sosial (medsos) masing-masing.

"Sehingga di sekeliling mereka tertarik untuk mencari informasi lebih jauh," ungkapnya.

Menurutnya, pariwisata bukan hanya bertujuan mendapatkan profit untuk pengelola, pengunjung juga harus mendapatkan experience atau pengalaman untuk dibawa pulang.

"Jadi mereka, baik wisatawan lokal maupun asing ketika datang bukan hanya sekedar buang-buang uang saja," jelasnya.

Tapi pengunjung juga harus memperoleh pengalaman positif. Dengan demikian keduanya akan sama-sama mendapatkan keuntungan. 

"Kembali ke tren wisata 2024, berdasarkan hasil kajian organisasi OECD (organisation for Economic Co-operation and Development) merupakan kolaborasi," terangnya.

Dia kemudian menyampaikan adanya perbedaan sudut pandang antara turis asing dengan lokal terhadap daya tarik wisata. 

"Contoh turis asing naik sepeda siang hari saat terik matahari menyengat. Mereka menyusuri destinasi dengan tertawa-tawa. Kalau wisatawan lokal mungkin tidak terjadi ya," ucapnya. (gun)

 

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#geopark #wisata jogja #Wisata #STIPRAM #wisata gunung api purba #Stipram Yogyakarta