RADAR JOGJA - Ironi menjelang peringatan kemerdekaan ke-79 Republik Indonesia. Sarno, 84, veteran dari Gunungkidul menempati bekas kandang ayam menjadi tempat tinggalnya.
Ia menghabiskan masa muda menjadi pejuang di masa kemerdekaan. Tapi di masa tuanya, Sarno bahkan tak mendapatkan perhatian atas perjuangannya untuk Negara Kemerdekaan Republik Indonesia (NKRI).
Mbah Sarno, begitulah tetangganya memanggilnya. Tua renta sebatang kara ini harus tetap berjuang demi bisa hidup. Bantuan silih berganti dari tetangga maupun yayasan sosial membuat Sarno tetap bisa berdiri tegap.
Mbah Sarno tinggal di rumah kayu bekas kandang ayam berukuran sekitar 8 x 6 meter di Padukuhan Susukan 2 Kalurahan Genjahan, Kapanewon Ponjong, Gunungkidul. Bangunan yang ditempatinya merupakan pemberian dari kerabatnya.
Bendera Merah Putih masih berkibar di tempat tinggal Mbah Sarno. Perjuangannya di masa lalu menjadi kebanggaan bagi dirinya. Namun bela negara yang dilakukannya dulu seperti tak mendapatkan pengakuan dari negaranya sendiri.
Sarno tergabung dalam anggota TNI pada tahun 1960 dengan pangkat prajurit dua (prada). Di dalam penugasannya, Sarno aktif dalam beberapa operasi penumpasan maupun pembersihan.
"Saya waktu itu diberangkatkan di Provinsi Sumatera, kemudian operasi di Sulawesi saat penangkapan Kahar Muzakkar, lalu ke Irian Barat," ujar Sarno saat ditemui di rumahnya kemarin (02/08).
Setelah itu, pada tahun 1965 dia diberangkatkan ke Kalimantan untuk menjaga perbatasan wilayah Indonesia. Lalu dipulangkan setahun kemudian untuk mengikuti operasi penumpasan G30S PKI.
Untuk karir, Mbah Sarno di TNI tergabung dalam Wajib Militer Darurat (Wamilda) dengan masa bakti lima tahun. Perpanjangan dilakukan ketika negara membutuhkan.
"Lencana dan penghargaan yang saya dapatkan masih saya simpan. Tapi sudah dua kali saya mengurus sebagai veteran tidak pernah lulus," ucapnya.
Mbah Sarno bahkan menunjukkan Surat Tanda Penghargaan yang ditandatangani langsung Kepala Staf Angkatan Bersenjata Djendral TNI AH Nasution. Dia saat itu telah berpangkat prajurit satu (Pratu) dianugerahi Setya Lentjana Wira Dharma.
Jenjang karir dan penghargaan selama bergabung dengan Angkatan Bersenjata tidak cukup buat Mbah Sarno dinyatakan veteran oleh negara. Bantuan sosial maupun tunjangan semacamnya tak pernah dia dapatkan. "Saya hidup sendiri di sini. Tak punya anak dan istri saya sudah meninggal sejak lama," jelasnya.
Seragam saat bekerja masih disimpan olehnya. Mbah Sarno berharap ada perhatian dari negara untuk dirinya. Sebab, usianya yang semakin menua menjadi keterbatasan untuk tetap bekerja di luar rumah.
Warga Padukuhan Susukan 2 Sukiran, 58, mengatakan, Sarno kini tidak dapat lagi bekerja, mendiami rumah dengan mengandalkan bantuan dari yayasan dan warga sekitar. "Bantuan yang biasa didapatkan berupa beras dan telur untuk makan sehari-hari.
Bahkan Mbah Sarno tidak terdaftar sebagai penerima BLT ataupun semacamnya dari pemerintah," ujar Sukiran. Mbah Sarno, kata Sukiran, telah menempati kandang ayam sebagai tempat tinggal kurang lebih selama 20 tahun lamanya. (ndi/laz)
Editor : Satria Pradika