RADAR JOGJA – Tangkapan ikan cepat nelayan di Kabupaten Gununugkidul mudah busuk. Hal ini karena minimnya pasokan es balok untuk melaut.
Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Gunungkidul Rujimanto mengatakan, persoalan minimnya es balok sudah terjadi sejak lama. Hal ini karena adanya pabrik es milik pemerintah, hanya berskala kecil. Jumlah itu pun tidak mampu memenuhi kebutuhan nelayan. Sehingga harus mengandalkan pasokan dari luar daerah. Seperti Pacitan dan Klaten. “Kalau menunggu dari luar daerah, ikan sudah membusuk,” lontarnya kepada awak media kemarin (30/6).
Hal ini seperti yang terjadi di TPI Sadeng. Ikan yang ada di ruang penyimpanan busuk. Padahal, para nelayan di Pantai Sadeng dapat menangkap ikan berkapasitas hingga 70 ton per hari.
"Kalau terakhir kami menemukan 20 ton ikan tangkapan membusuk di gudang penyimpanan atau cold storage Pantai Sadeng," ujar Ketua Nelayan Pantai Sadeng Sarban.
Selama ini, TPI Sadeng mengandalkan 200 balok es per hari yang berasal dari Pacitan. Hanya saja, jumlah tersebut juga kurang untuk menjangkau kuantitas tangkapan. Mengingat setiap nelayan, satu kapal bisa membawa 60 es balok untuk melaut. "Kalau kapalnya berukuran besar bisa sampai 250 es balok, itu bagi kami kurang,” lontarnya.
Akibatnya, kapal yang mendarat memuat sebagian ikan tangkapan sudah tidak segar lagi. Belum lagi, ikan-ikan yang disimpan dalam cold storage dalam beberapa hari usai ditangkap. "Ciri-cirinya insangnya sudah memutih sehingga harga juga ikut anjlok," ucapnya.
Turunnya harga, biasa terjadi pada ikan cakalang. Jika biasanya Rp 25 ribu per kilogram, anjlok menjadi Rp 4 ribu.
Terpisah, Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Gunungkidul Wahid Supriyadi mengatakan, produksi pabrik es balok di Kalurahan Siraman, Wonosari, tidak didistribusikan ke seluruh TPI. Namun hanya di TPI Baron, Ngrenehan, dan penjual ikan wilayah Wonosari. Jumlahnya pun hanay 160 balok es per hari.
Meski demikian, pabrik milik DKP itu tetap akan memenuhi permintaan dari TPI lain. Jika stok masiih tersedia. “Memang produksinya masih kurang," ujar Wahid.
Saat ini, DKP Gunungkidul telah mengusulkan pengadaan mesin produksi es dan rehabilitasi pabrik. Melalui dana alokasi khusus (DAK) dan dana keistimewaan (danais). Harapannya akan terealisasi pada 2025 mendatang. (ndi/eno)
Editor : Satria Pradika