RADAR JOGJA - Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul menyebut lahan seluas 50 hektare tanaman padi terancam gagal panen imbas kemarau panjang.
Kekeringan mulai dirasakan para petani khususnya tanaman pangan yang membutuhkan jumlah air yang tidak sedikit seperti padi.
Kepala DPP Gunungkidul Rismiyadi mengatakan, lahan-lahan pertanian padi yang terancam gagal panen terletak di Kapanewon Ngawen. Debit air yang berkurang dan jarak sumber air yang jauh menjadi faktor penyebab para petani gagal panen.
Pihaknya juga mengakui, dampak kekeringan sangat terasa bagi para petahi yang memiliki tanaman padi di wilayah Selatan Gunungkidul. Minimnya sumber air di daerah tersebut membuat mereka terpaksa mengandalkan air hujan untuk pengairan sawah.
Bahkan, produksi gabah kering giling berpotensi berkurang 20 persen selama kemarau melanda. Namun begitu, pihaknya memastikan para petani memiliki langkah antisipasi untuk saat kekeringan.
Sebagian para petani memilih untuk tidak menanam padi selama musim kemarau. “Padi mulai digantikan dengan tanaman palawija yang tidak membutuhkan banyak air," jelasnya.
Selain itu, pihaknya juga sudah menyiapkan bantuan puluhan unit pompa air agar bisa memanfaatkan air dari sungai. Khususnya lahan-lahan pertanian yang berada dekat dengan aliran Sungai Oyo.
"Dalam rangka penyelamatan produksi pangan di Kabupaten Gunungkidul kami telah menyalurkan 36 unit pompa air untuk memanfaatkan alirang sungai Oya," tuturnya.
Pihaknya juga telah menyiapkan 12 unit irigasi perpompaan untuk menyelamatkan produktivitas para petani di Gunungkidul selama musim kemarau.
Dikatakannya, selain kekurangan air, hama-hama sawah selama musim kemarau juga mulai menyerang lahan pertanian. "Akibat serangan hama banyak tanaman padi yang dipanen namun tidak berisi, apalagi musim kemarau serangan hama cukup tinggi," tuturnya.
Dia mengharapkan, musim kemarau dapat lebih cepat berakhir agar para petani yang terhambat dapat menanam kembali. (ndi/din)