RADAR JOGJA - Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) menjadi alternatif sebagian masyarakat Gunungkidul untuk terus melanjutkan pendidikan. Pembelajarannya dinilai lebih fleksibel. Salah satunya karena di antara siswanya memiliki riwayat hamil duluan, kekerasan seksual, dan korban bullying.
Ketua Forum PKBM Gunungkidul Tugino mengatakan, usia termuda peserta didik 14 tahun dan paling tua 50 tahun. Usia produktif terpaksa belajar di PKBM karena sejumlah faktor. Sebagian besar korban bullying, kekerasan seksual dan hamil di luar nikah.
”Sehingga tidak memungkinkan belajar di sekolah formal," kata Tugino usai acara purna wiyata dan expose hasil belajar pendidikan non rormal Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di Pendopo Gedung SKB, Senin (24/6).
Dari ketiga faktor alasan memilih jalur belajar non formal, karena kasus hamil di luar nikah persentasenya cukup banyak. Mereka sangat bersemangat ingin memperoleh ijazah di PKBM."Dari 230 peserta didik kami itu, yang hamil duluan hampir sekitar 5 sampai 10 persen," ungkapnya.
Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS) lama sekolah di Gunungkidul baru 7 tahun. Masih sangat rendah dibandingkan dengan daerah lain di seluruh DIY."Kalau dirata-rata lulusan SD 60 persen," ucapnya.
Tugino berharap pemerintah daerah memberikan subsidi kepada peserta didik usia di atas 21 tahun, sehingga bisa belajar kesetaraan. Baik paket A, paket B maupun paket C. Subsidi dari pemerintah pusat hanya usia di bawah 21 tahun."Usia di atas 21 tahun swadaya, itu masalahnya sehingga tidak bisa menerima banyak," ungkapnya.
Jumlah tutor sendiri se-Gunungkidul mencapai 498 tersebar disejumlah wilayah Kapanewon. Tutor tahun ini telah dibantu per bulan Rp 200 ribu dari pemerintah daerah.
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Gunungkidul Nunuk Setyowati menyampaikan kabar baik bahwa tahun depan peserta didik PKBM usia di atas 25 tahun akan mendapatkan subsidi dari pemkab."Selama ini khan, mereka ada yang bekerja untuk keluarga sekolah dan sebagainya. Tahun depan pemkab memberikan subsidi," kata Nunuk Setyowati.
Bupati Gunungkidul Sunaryanta mengakui, tingkat pendidikan di Gunungkidul sampai saat ini untuk tamatan SD saja masih diangka 60 persen. Tetapi di beberapa wilayah atau daerah bahkan ada yang mencapai 65 persen."Kalau dari ilmu pengetahuan ya mungkin masih ada stratanya, tetapi kalau dari pengalaman kerja dan sebagainya tidak diragukan," ujarnya. (gun/din)
Editor : Satria Pradika