Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Rumah Fajar Eko Hanya Dua Meter dari Tebing Penambangan Uruk Tol di Serut Gunungkidul, Khawatirkan Bencana Longsor Menimpanya

Andi May • Rabu, 19 Juni 2024 | 03:25 WIB

 

MERASA DIBOHONGI: Rumah Fajar Eko Nugroho bersama  keluarganya terancam longsor akibat operasi penambangan uruk tol di Padukuhan Nglengkong, Serut, Gedangsari, Gunungkidul.
MERASA DIBOHONGI: Rumah Fajar Eko Nugroho bersama  keluarganya terancam longsor akibat operasi penambangan uruk tol di Padukuhan Nglengkong, Serut, Gedangsari, Gunungkidul.


RADAR JOGJA - Hanya berjarak kurang dari dua meter antara rumah dengan tebing hasil operasi tambang urukan tol di Padukuhan Nglengkong, Serut, Gedangsari. Dengan jarak sedekat itu, ketakutan dan kekhawatiran akan bencana longsor kian menghantui penghuni rumah Fajar Eko Nugroho bersama keluarganya.


Meskipun begitu, rumah yang terbentuk dari batuan tanpa cat itu menjadi satu-satunya tempat bagi mereka untuk berlindung dari dinginnya malam dan panasnya matahari.  Eko menceritakan, rumah yang ditempati itu merupakan warisan orangtuanya dan telah berdiri jauh sebelum adanya operasi pertambangan itu.


Suasana adem dan nyaman dirasakan oleh keluarganya. Namun, ketakutan muncul ketika  mengetahui tanah tepat di sebelah rumahnya hendak dijadikan lokasi tambang urukan tol.  "Awalnya saya diberi tahu bahwa mereka (pihak perusahaan) hanya ingin meratakan agar sejajar dengan pekarangan rumah saya, karena sebelumnya ada gundukan tanah di situ," ujar Eko. 


Ia pun tidak merasa keberatan dengan hal itu. Beberapa alat berat mulai didatangkan dan beroperasi tepat di samping rumahnya. Suara alat berat dan debu sempat menjadi keluhan dari keluarganya, mengingat ia memiliki anak kecil yang belum usia setahun. 


Dua minggu alat berat beroperasi, Eko terkejut melihat tanah di samping pekarangan rumahnya berubah menjadi tebing dan tidak sesuai pemberitahuan awal. Merasa dibohongi, Eko lantas memviralkan operasi pertambangan yang dinilainya dapat mengancam keselamatan keluarganya itu. 


"Saya tidak tahu mau mengadu ke siapa. Makanya saya video dengan maksud memohon pertolongan kepada pemerintah dan Presiden Jokowi untuk melihat keadaan kami, wong saya ini orang kecil," tuturnya. 


Ia menuturkan, tebing hasil operasi tambang  itu berkedalaman mencapai  10 meter dari rumahnya. Selain longsor, dia juga khawatir bebatuan besar yang berada di perbukitan menimpa rumahnya jika operasi penambangan terus dilakukan. 


Baginya, tidak ada alasan untuk meninggalkan kediamannya. Dia tetap berupaya untuk meminta pihak perusahaan dapat mempertanggungjawabkan dampak buruk yang berpotensi melanda rumahnya. 


"Apalagi kalau hujan, kami selalu waswas karena takut terjadi longsor. Meskipun dengan kondisi seperti ini, sampai sekrang kami tetap akan tinggal di rumah ini, karena mau tinggal di mana lagi," tandasnya.


DPUPESDM Minta Perusahaan Perbaiki

Pemprov DIY melalui Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan Dan Energi Sumber Daya Mineral (DPUPESDM) mewajibkan perusahaan melakukan penataan lahan dan penguatan tebing untuk mengatisipasi penambahan rusaknya rumah terdampak tambang di Serut, Gedangsari, Gunungkidul. DPUPESDM juga meminta pengusaha tambang untuk bertanggungjawab memperbaiki kondisi pertambangan yang berpotensi merusak rumah warga.


Kepala Dinas PUP ESDM DIY Anna Rina Herbranti mengatakan terus melakukan pengawasan kegiatan penambangan di lokasi itu. Pengawasan dilakukan bersama dengan BP2EDM, DLHK DIY dan Inspektur Tambang Penempatan DIY. "Terdapat penggalian yang mepet ke permukiman dan rawan longsor," ujarnya saat dikonfirmasi Selasa (18/6).


Maka dari itu, pihaknya meminta perusahaan yang bersamgkutan untuk berhenti melakukan penambangan. Selain itu, perusahaan juga diwajibkam melakukan penataan tebing kembali untuk mencegah tanah longsor.


"Kami lakukan pengawasan setiap hari, rumah terdampak tidak di relokasi dan pengusaha wajib memperbaikan kondisi yang sudah terjadi," tuturnya.


Dari data yang ia berikan, sementara terdapat dua bangunan yang terdampak tambang itu. Satu rumah merupakan gudang yang tidak dihuni dan satu rumah penduduk. "Gudang atas nama Tukiyem dan satu rumah terdiri atas tiga kepala keluarga (Eko, Harno Marimin, Sumarni) dengan lima jiwa," elasnya.


Pihaknya mengatakan, proses penambangan yang dilakukan di dekat permukiman warga harus melalui proses sosialisasi ke warga sekitar. Hal itu selain memberikan informasi, juga untuk melakukan kesepakatan dengan warga sekitar. "Sebelum melakukan penggalian harus sudah sosialiasi dengan warga sekitar," tandasnya. (ndi/oso/laz)

Editor : Satria Pradika
#Pemprov DIY #DPUPESDM #Gunungkidul #tol #urukan #tebing #Longsor