RADAR JOGJA - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul kembali menyalurkan 80.000 liter air bersih Rabu (5/6). Seluruhnya disalurkan untuk ratusan warga dari tiga padukuhan di Kalurahan Girisuko, Panggang, Gunungkidul.
Kepala BPBD Gunungkidul Purwono mengatakan, pihaknya mengerahkan empat armada untuk menyalurkan air bersih.
"Empat armada dengan kapasitas 5.000 liter per mobilnya, dilakukan sebanyak 16 retase ke Kalurahan Girisuko, Panggang," ujar Purwono kepada awak media, Rabu (6/5/2024).
Pihaknya mengakui sejumlah lokasi di Kabupaten Gunungkidul mengalami dampak dari musim kemarau yang sudah terasa beberapa bulan terakhir. Khususnya wilayah-wilayah yang mengandalkan sumber air dari tadah hujan.
"Kemarin juga kami salurkan ke Tepus sebanyak 20.000 liter atau empat mobil tangki dengan kapasitas yang sama," jelasnya.
Meskipun demikian, Purwono menyebut, beberapa sebagian wilayah telah terjangkau oleh PDAM. Warga yang bermukim di dataran rendah relatif mendapatkan aliran air dari PDAM.
"Kebanyakan warga yang terdampak kekeringan bermukim di dataran tinggi, sehingga belum mendapatkan aliran air dari PDAM," ucapnya.
Pihaknya berkomitmen untuk terus menindaklanjuti permohonan-permohonan masyarakat terkait permintaan bantuan air bersih. Dalam menangani dampak akibat kemarau yang berkepanjangan pihaknya menyiapkan 1.000 tangki bantuan air bersih.
"Prediksi kami dapat digunakan sampai pertengahan Oktober, setelah itu mungkin sudah memasuki musim hujan," tuturnya.
Dia mengatakan, droping air disalurkan langsung ke toren-toren penampungan air milik warga. Disebutkannya, masyarakat yang terdampak kekeringan berada di wilayah selatan Gunungkidul.
Terpisah, Carik Girisuko Wahyu Setyoningsih mengatakan, tiga padukuhan yang terdampak adalah Padukuhan Gebang, Temuireng, dan Temuireng 2. “Dengan penerima manfaat berkisar 600 keluarga," ujar Wahyu.
Pemanfaatan bantuan air bersih digunakan untuk masak, minum dan kebutuhan hidup sehari-hari. "Kalau untuk pertanian belum bisa," jelasnya.
Dia juga mengakui sudah beberapa bulan terakhir hujan tak kunjung turun. Padahal di wilayah tersebut, sumber air untuk kebutuhan sehari-hari memanfaatkan tadah hujan. (ndi/eno)
Editor : Satria Pradika