Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Diduga Dibully dan Trauma, Tiga Anak di Gunungkidul Putus Sekolah, Begini Kronologinya

Gunawan RaJa • Jumat, 31 Mei 2024 | 22:56 WIB
Ilustrasi Bullying
Ilustrasi Bullying

GUNUNGKIDUL - Belum lama ini Kantor Kalurahan Kampung, Kapanewon Ngawen, Gunungkidul melalukan pendataan angka putus sekolah. Hasilnya mengagetkan, karena bullying dan trauma menjadi salah satu faktor penyebab anak tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. 

Kamituwo Kalurahan Kampung, Kapanewon Ngawen Lanjar Riyanto mengatakan, temuan kasus ini muncul dalam kegiatan pendataan angka putus sekolah usia 20 tahun ke bawah belum lama ini.

"Berdasarkan data, total ada 65 orang masuk kreteria putus sekolah. Didominasi tidak melanjutkan ke perguruan tinggi," kata Lanjar Riyanto pada Jumat (31/5/2024).

Penyebab tidak melanjutkan pendidikan lebih tinggi beragam, mulai dari kendala biaya, menurunnya motivasi anak hingga bullying dan trauma padahal masih usia produktif.

"Satu anak umur 11 tahun putus sekolah karena sakit, dua anak trauma dan satu anak korban bullying," ujarnya.

Dia merinci, dua anak mengalami trauma berjenis kelamin perempuan dan korban perundungan anak berjenis kelamin laki-laki.

"Temuan ini kami laporkan ke balai pendidikan menengah Kabupaten Gunungkidul," jelasnya.

Sementara itu, salah seorang dukuh di Kalurahan Kampung, Kapanewon Ngawen Joko Susilo membenarkan salah satu warganya anak usia sekolah menjadi korban bullying.

Baca Juga: Mulai Bulan Juni 2024 Sertifikat Tanah di DIY Berbentuk Elektronik, Begini Penerapannya di Kabupaten Sleman

"Kabarnya simpang siur (korban bullying), tapi memang benar ada satu warga kami dikabarkan jadi korban bullying kemudian putus sekolah," kata Joko Susilo.

Anak tersebut masuk ke jenjang SMP tahun lalu. Selama di wilayahnya tinggal bersama ibu angkat. Kemudian sejak beberapa bulan terakhir pindah ke kampung sebelah tinggal bersama nenek.

"Informasi putus sekolah karena dinakali (dibully) teman-temannya," jelasnya.

Kemudian dua anak perempuan trauma karena minder (tidak percaya diri) dengan penampilan fisiknya. Diinformasikan bahwa si anak memiliki postur tubuh kecil dibanding teman sebaya lainnya.

"Minder akhirnya mengaku tidak punya teman contohnya seperti itu," ucapnya.

Terpisah Lurah Kampung, Kapanewon Ngawen Suparna menyampaikan, anak putus sekolah ada beberapa penyebab. Salah satunya anak belum mampu seutuhnya memaknai betapa besar manfaat pendidikan sebagai dasar untuk menghadapi masa depan.

"Bahwa pinter (pintar) secara kapasitas yang didapat dari pendidikan formal merupakan bagian bekal kehidupan," kata Suparna.

Anak kemungkinan minder, bisa jadi karena faktor pendukung keluarga. Dianggap kurang bisa seperti teman sebaya karena faktor ekonomi.

Pihaknya berharap anak usia sekolah apapun kondisinya tetap semangat bersekolah dan belajar ilmu agama.

"Agar semakin mampu untuk bisa mengikuti perkembangan zaman," jelasnya.

Baca Juga: Bhabinkamtibmas dan Masyarakat Bersih-Bersih Tembok Penuh Vandalisme di Gunungketur Pakualaman Kota Jogja

Di bagian lain Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Gunungkidul Nunuk Setyowati hingga berita ini ditulis belum dapat dimintai tanggapan. (gun)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#putus sekolah #bullying anak sekolah #Gunung Kidul #minder