Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kekeringan 600 Rumah di Gunungkidul Kesulitan Air Bersih, Keluhkan PDAM Belum Juga Penuhi Kebutuhan Warga

Andi May • Senin, 20 Mei 2024 | 05:00 WIB
KEBUTUHAN POKOK: Warga membeli air bersih karena terdampak kekeringan di Kalurahan Girisuko, Kapanewon Panggang, Gunungkidul.
KEBUTUHAN POKOK: Warga membeli air bersih karena terdampak kekeringan di Kalurahan Girisuko, Kapanewon Panggang, Gunungkidul.

 

RADAR JOGJA - Sekitar 600 rumah di Kapanewon Panggang, Kabupaten Gunungkidul mengalami kesulitan air bersih akibat kekeringan. Kekeringan menimpa warga-warga yang tinggal di Padukuhan Temuireng, Temuireng 2, dan Gebang, Kalurahan Girisuko, Panggang, Kabupaten Gunungkidul.


Sekretaris Kalurahan Girisuko Wahyu Setyoningsih mengatakan, kekeringan yang dirasakan sudah sebulan lamanya sejak hujan tak kunjung turun. Tiga padukuhan tersebut memanfaatkan air hujan untuk minum dan mandi. "Karena kemarau dan hujan juga tak kunjung turun, warga memutuskan untuk membeli air," ujar Wahyu, Minggu (19/5).


Warga setempat mulai memesan air bersih dimobil tangki berukuran 5.000 liter dengan harga Rp 140 ribu. Banyaknya air yang dipesan sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat. Permasalahan mengenai kesulitan air bersih di sini sebenarnya sudah sering terjadi ketika musim kemarau. “Tetapi entah mengapa PDAM sampai sekarang belum juga masuk," ucapnya.


Di Kalurahan Girisuko sebenarnya memiliki sumber air di sungai bawah tanah Ngobaran. Namun jarak yang jauh dari pemukiman membuat warga memilih untuk membeli air bersih. Wahyu menuturkan, warga setempat belum juga menerima bantuan air bersih dari pemerintah. "Biasanya ada bantuan dari BPBD, tapi sudah sebulan ini belum ada bantuan," ucapnya.


Ia juga mengakui adanya proyek pemerintah jaringan perpipaan untuk menangani permasalahan kekeringan di daerah tersebut. Namun hingga saat ini belum ada realisasi yang diterima oleh warga setempat.


Terpisah, Direktur PDAM Tirta Handayani Toto Sugiharta mengakui proyek intake dan jaringan perpipaan dengan memanfaatkan sumber air yang berada di sungai bawah tanah Ngobaran. "Proyek masih tahap pertama dan belum menjangkau tiga padukuhan tersebut, pengerjaan tahap kedua baru mau dilakukan tahun ini," ujar Toto.


Proyek intake dan jaringan perpipaan itu dilaksanakan oleh Balai Besar Wilayah Sungai Serahu Opak (BBWSO). Untuk melayani Padukuhan Temuireng dan sekitarnya, pihaknya tengah memperbaiki jaringan perpipaan yang berukuran enam inchi. "Dari reservoar karang ke Cekel-Wono, Ngobaran-Temuireng Utara dan sudah siap untuk pelayanan kalau tambahan debit dari sungai bawah tanah Ngobaran tahap dua terlaksana," jelasnya.


Pihaknya memastikan, jika proyek intake dan jaringan perpipaan telah rampung, sumber air dari sungai bawah tanah Ngobaran dapat dialiri ke 10 ribu rumah yang ada di daerah tersebut. (ndi/din)

Editor : Satria Pradika
#Kekeringan #kesulitan air bersih #Gunungkidul #BBWSO #musim kemarau #Memanfaatkan Air Hujan #kabupaten gunungkidul