RADAR JOGJA - Dampak buruk bencana alam atau hidremeteorologi sangat terasa di sejumlah wilayah Kabupaten Gunungkidul. Data terakhir BPBD Gunungkidul mencatat, kerusakan rumah akibat angin kencang mencapai 109 rumah.
Bencana angin kencang yang mengakibatkan pohon tumbang juga merusak beberapa fasilitas warga seperti bangunan sekolah, masjid, hingga menutup badan jalan.
Untuk itu, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul membentuk Kampung Siaga Bencana (KSB) di beberapa Kapanewon yang memiliki tingkat kerawanan terhadap dampak bencana alam.
Bupati Gunungkidul Sunaryanta bersama warga Kalurahan Ngeposari, Kapanewon Semanu melaksanakan simulasi bencana angin kencang untuk pembentukan KSB.
Simulasi bencana digambarkan dengan menempatkan beberapap pohon tumbang di badan jalan, korban terdampak, dan juga tim penyelamat. "Pembentukan KSB sebagai wujud penyadaran masyarakat dalam menghadapi bencana," ujar Sunaryanta, kemarin (1/5).
Gunungkidul memiliki banyak potensi bencana mulai dari kekeringan, angin kencang, banjir hingga tanah longsor. Untuk itu, pembentukan KSB dapat menumbuhkan sikap kesiagaan dari risiko ancaman bencana dan pengurangan risiko."Mitigasi bencana sangat penting ada perubahan pola penanganan bencana tidak hanya cepat tapi juga ada langlah preventif," tuturnya.
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Endang Patmintasari menyebut, Kabupaten Gunungkidul telah membentuk 67 KSB yang tersebar di 13 Kapanewon. Tentunya melibatkan masyarakat dalam upaya mitigasi bencana, juga diberikan keleluasan dalam pengendalian.
Menurutnya, Kesiapsiagaan memiliki arti penting dalam meminimalkan korban. Pembentukan Kampung Siaga Bencana mendorong peran serta masyarakat di wilayah yang memiliki potensi rawan.Pembentukan KSB melibatkan 60 personel dari unsur masyarakat dan Kalurahan Ngeposari.
Mereka mendapatkan pelatihan mulai 28-30 April. “Kegiatan ini bersumber dari APBN Kemensos dan lumbung sosial berjumlah Rp. 245 Juta," pungkasnya.(ndi/din)
Editor : Satria Pradika