GUNUNGKIDUL - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ginungkidul melalui Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) mengikut sertakan 50 anak muda dalam pelatihan menjadi barista atau penyaji kopi.
Kegiatan Sentra Kewirausahaan Pemuda (SKP) itu diikuit oleh 20 orang dari Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), 20 orang dari Karang Taruna dan 10 orang dari pondok pesantren. Mereka tampak antusias.
Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga Supriyanto mengatakan, pelatihan barista atau penyaji kopi telah berjalan selama tiga hari sejak 23 sampai 25 April 2024. Setiap peserta mendapatkan alat pembuat kopi senilai Rp 1 Juta.
"Kegiatan kemarin terlaksana selama tiga hari, menggunakan di Pendopo Wisata Gunung Gambar, Ngawen," ujar Supriyanto kepada awak media, Jumat (26/4).
Pelatihan kuwirausahaan itu mendatangkan narasumber dari akademisi dan owners salah satu cafe di Kabupaten Gunungkidul.
Mereka dilatih mulai dwri pengolahan dan penyajian kopi.
"Harapan kami anak muda memiliki inspirasi dalam pengolahan biji kopi fan mengembangkan usaha kopi yanf menurut kami saat ini menjanjikan," ucapnya. .
Selain menambah kemampuan pemuda untuk ikut bersaing di era moderen, para peserta juga dapat meningkatkan kualitas diri baik menjadi wirausaha ataupun barista dari pengolahan kopi.
Apalagi, kata Supriyadi, Globalisasi dan arus perubahan menuntut anak muda kreatif kami berharap melalui pelatihan barista ini dapat menjadi bekal mereka meningkatkan perekonomian.
Bupati Gunungkidul Sunaryanta mengatakan, dari pelatihan yang digelar oleh Dispora Gunungkidul, peserta mampu menangkap peluang bisnis dari tren era globalisasi sekarang.
"Saya ingin ada startup yang justru muncul dari Gunungkidul ini, ya tidak menutup kemungkinan datang dari peserta pelatihan kopi yang telah digelar kemarin," ujar Sunaryanta.
Tidak cukup dengan pelatihan, kata Sunaryanta, untuk menjadi pengusaha yang andal butuh ketekunan, konsistensi diri dan telaten sehingga wirausaha dibidang kopi dapat meningkatkan perekonomian.
Menurutnya, usaha kopi dapat di Gunungkidul sangat menjanjikan dan mampu mengurangi angka pengangguran. Dengan memanfaatkan media sosial untuk membranding usaha kopi.
"Kami juga telah bekerjasama dengan Universitas Gadjah Mada dalam upaya pengembangan tanaman kopi di Bumi Handayani, di antaranya di Kapanewon Nglipar dan Ngawen," tuturnya.
Sunaryanta memastikan, pihaknya akan terus megembangkan tanaman kopi yang sudah ada di Kabupaten Gunungkidul. (cr6)
Editor : Amin Surachmad