Mengenakan pakaian adat dan prajurit kerajaan Mataram, ribuan warga itu berbaris memanjang dari Kompleks Pasar Tepus ke Balai Kalurahan.
Bupati Gunungkidul Sunaryanta dan masyarakat menyaksikan pegelaran budaya itu dengan sejumlah penampilan mulai dari gejok lesung, reog, gunungan hingga tarian adat di sepanjang jalan.
Sunaryanta mengatakan, kirab budaya dalam rangka hari jadi Kalurahan Tepus Ke-76 yang diikuti ribuan warga dari 20 Padukuhan di Kalurahan Tepus, Gunungkidul.
"Antusias warga untuk ikut serta atau menyaksikan kirab budaya sangat tinggi, dan budaya yang digelar merupakan suatu kebanggaan masyarakat," ujar Sunaryanta kepada awak media.
Sunaryanta berharap kegiatan kebudayaan dapat terus dipertahankan serta dilaksanakan secara terus-menerus di waktu-waktu tertentu.
"Saya memberikan apresiasi kepada seluruh masyarakat ini wujud nyata memelihara persatuan dan kesatuan masyarakat," imbuhnya.
Di tempat yang sama, Lurah Tepus Hendro Prapto mengungkapkan, warga dari masing-masing padukuhan menampilkan kesenian terbaik dalam pegelaran kirab budaya hari jadi Kalurahan Tepus ke-76.
"Setidaknya, 2.400 kepala keluarga yang ada di Kalurahan Tepus, masing-masing wajib ikut serta dalam memeriahkan kegiatan kirab budaya," ujar Hendro.
Selain ikut serta, warga juga wajib mengetahui sejarah berdirinya Kalurahan Tepus di Bumi Handayani.
Ia bercerita Kalurahan Tepus sebelumnya berasal dari tiga kalurahan yang kemudian menjadi satu.
"Kalurahan Tepus sebelumnya terdiri dari Kalurahan Mbekonang, Ndloko dan Tepus. Ketiga daerah itu disatukan menjadi daerah Tepus," ucapnya.
Dengan menyatukan warga dari masing-masing Padukuhan, Hendro berharap dapat membuat masyarakat hidup tentram, adem ayem dan bahagia.
"Upaya kami dengan menghadirkan kirab budaya ini," pungkasnya.
Editor : Bahana.