GUNUNGKIDUL - Minat pelajar dan mahasiswa wilayah Provinsi DIY untuk belajar teknologi dan proses pangan cukup tinggi. Hal itu terlihat dari data kunjungan ke Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kawasan Gunungkidul.
Satu-satunya pusat riset teknologi dan proses pangan di Indonesia ini lokasinya ada di Jl Wonosari-Jogja tepatnya Gading, Playen. Pasca Covid-19, BRIN membuka kelas kunjungan bagi pelajar dan mahasiswa.
"2022 bulan April sampai Desember sekitar 1400 kunjungan dari pelajar dan mahasiswa," kata Staf Humas BRIN Kawasan Gunungkidul, Kapat Yuliawan Rabu (20/3/2024).
Kemudian di 2023 dibuka full Januari sampai dengan Desember. Jumlah kunjungan naik hingga tiga kali lipat hampir 5000 orang datang berkunjung. Segmentasi didominasi oleh kalangan mahasiswa, dan pelajar.
"Merupakan pelajar SD, SMP dan SMA," ujarnya.
BRIN kawasan Gunungkidul memiliki 133 peneliti dan 16 kelompok riset, diantaranya kelompok riset protein, hewani, hasil laut, hasil perkebunan dan terbaru penambahan riset pemanfaatan sarang burung walet untuk pangan.
"Selain mengenalkan sejarah BRIN, pengunjung juga melihat produk riset sekaligus kemungkinan kolaborasi tugas akhir atau pemagangan mahasiswa dan yang lain," ujarnya.
Untuk diketahui, BRIN telah melakukan revitalisasi pangan berupa penanganan stunting, pengemasan kaleng dan riset halal. BRIN Gunungkidul sendiri menjadi pusat penelitian pangan halal di Indonesia.
"Kami memiliki alat-alat instrumentasi yang mendukung tentang itu," jelasnya.
Sementara itu, seorang peneliti dari kelompok riset rekayasa teknologi protein alternatif BRIN Gunungkidul Dra. Dini Ariani M.Si. mengatakan tahun lalu kolaborasi penanganan stunting.
"Kerjasama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan supporting dari perbankan daerah untuk menangani masalah stunting di Karangmojo," kata Dini Ariani.
Dalam program tersebut BRIN melakukan proses pembuatan formulasi produk-produk pangan lokal mengandung protein hewani dan nabati yang diperkaya dengan daun kelor. Jenis daun ini dikenal memiliki kandungan lengkap seperti, mineral, kalsium, zat gizi dan sebagainya.
"Produk yang kami kembangkan (untuk makanan pendamping stunting) mudah dibuat. Saat proses lanjutan pembuatan makanan juga memasukkan unsur pemberdayaan masyarakat," ujarnya. (gun)
Editor : Iwa Ikhwanudin