Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Warga Gejala Antraks di Gunungkidul Bertambah Jadi 17 Orang, Ikut Konsumsi Daging Kambing dari Sleman 53 Orang Diperiksa

Andi May • Selasa, 12 Maret 2024 | 14:25 WIB

 

Plt Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul Dewi Irawati.
Plt Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul Dewi Irawati.

 

GUNUNGKIDUL - Warga gejala antraks di Padukuhan Kayoman, Kalurahan Serut, Gedangsari, bertambah menjadi 17 orang. Sebelumnya satu warga Kayoman menjalani perawatan di Rumah Sakit Prambanan akibat terinfeksi antraks usai mengonsumsi daging kambing dari Sleman, Kamis (7/3). Keesokan harinya tiga hewan ternak berupa satu sapi dan dua kambing di Kayoman seketika mati mendadak diduga terinfeksi bakteri berbahaya itu.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul Dewi Irawati mengatakan, 53 warga Kayoman harus menjalani pemeriksaan usai diketahui mengonsumsi daging kambing yang berasal dari Sleman. "Warga yang diperiksa 53 orang, diketahui ikut mengonsumsi daging kambing," ujarnya saat dikonfirmasi kemarin (11/3).

Sedangkan yang bergejala antraks, kata Irawati, berjumlah 17 orang. Namun yang menjalani perawatan di rumah sakit hanya dua orang. "Ke-17 warga telah diambil sampel darahnya dan telah di kirim ke Balai Besar Teknik Kesehatan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Jogjakarta,” jelasnya.

Sebelumnya, Dinkes telah telah melakukan surveilens terhadap warga-warga yang diduga mengonsumsi daging hewan ternak itu. Pihaknya juga mengerahkan tiap puskesmas untuk melaporkan perkembangan jika ada warga yang terinfeksi antraks.

Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Gunungkidul Wibawanti Wulandari mengatakan, pihaknya belum dapat memastikan asal muasal dari bakteri antraks yang menyerang sejumlah hewan ternak di Kayoman. “Dari hasil laboratorium Balai Besar Veterinari (BBVet) Wates, satu sapi yang mati mendadak positif antraks,” ujarnya.

Meski begitu, penanganan terhadap sejumlah hewan ternak yang mati mendadak ditangani secara antraks. Pihaknya juga telah melakukan penyuntikan antibiotik dan vitamin terhadap hewan-hewan ternak milik warga Kayoman. “Kami juga sudah menyemprot formalin di kandang-kandang hewan ternak untuk mengantisipasi penyebaran bakteri antraks,” tandasnya.

 

Undang Stakeholder

Bahas Penanganan

Seekor sapi yang mati di Kayoman, Gedangsari dinyatakan positif antraks. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY telah menerima tembusan hasil sampel darah yang diambil dari Balai Besar Veterinari (BBVet) Wates terhadap beberapa ternak yang mati di Gunungkidul.

Kepala DPKP DIJ Hery Sulistio Hermawan mengatakan, seekor sapi milik warga berinisial S di Kayoman terinfeksi antraks setelah diambil sampel darah oleh BBVet Wates. "Hasil sampel darah di BBVet 8 Maret pada sampel seekor sapi limosin milik Pak S yang di Kayoman memang terinfeksi  bakteri antraks," ungkapnya kepada Radar Jogja kemarin (11/3).

Hery menjelaskan, asesmen telah dilakukan dengan pengobatan dan pemberian vitamin utamanya terkait daerah zona merah. Juga sudah melakukan disinfeksi terutama di daerah yang ternaknya mati dan lain-lain.

Kemudian berkoordinasi intensif dengan BBVet Wates dan pengambilan sampel darah, sampel pakan, sampel lahan untuk ternak di Gunungkidul dan Sleman. Sebab satu warga Kayoman yang suspek antraks satu minggu sebelumnya membawa daging kambing dari Sleman kemudian dikuliti dan dikonsumsi beberapa orang di rumahnya.

"Laporan kemarin yang Gunungkidul udah keluar positif antraks. Yang di Sleman memang datanya belum keluar, kami harus memastikan itu supaya langkah kita jelas," ujarnya.

Instansi ini juga sudah mengirim logistik berupa obat-obatan, alat pelindung diri (APD), disinfektan ke Sleman yang diketahui minim kebutuhan tersebut. Berikutnya akan melakukan  pencegahan dan penanganan di lini lapangan terkait penyakit yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia atau sebaliknya.

Rencananya, semua stakeholder lintas sektor akan dikumpulkan besok (13/3) untuk mendiskusikan tindak lanjut penanganan antraks. Beberapa instansi yang diundang meliputi jajaran Pemprov DIJ, Direktorat Kesehatan Hewan Kementan, BBVet Wates, Kementan, jajaran kabupaten/kota, fakultas kedokteran hewan UGM, dan Dinas Kesehatan DIJ.

"Paling tidak kita ingin secara formal memahami progress update status yang terakhir untuk langkah ke depan. Kita tahu statusnya, kemudian tindakan yang perlu kita lakukan hingga menginventarisasi kebutuhan," jelasnya.  (cr6/wia/laz)

 

Editor : Satria Pradika
#antraks #daging kambing