Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Jadi Wilayah Endemis Antraks, UGM Minta Pemkab Gunungkidul Serius Tangani Kasus

Gunawan RaJa • Senin, 11 Maret 2024 | 00:38 WIB
Nanung Danar Dono, Ph.D
Nanung Danar Dono, Ph.D

SLEMAN - Pemkab Gunungkidul perlu mempertimbangkan penerapan kejadian luar biasa dalam kasus maraknya penularan penyakit antraks. Dengan begitu, antisipasi dan penanganan penyakit bakterial menular pada manusia dan hewan dapat dilakukan secara serius.

Hal tersebut disampaikan oleh Dosen Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM), Nanung Danar Dono, Ph.D, menyikapi berulangnya kasus antraks di Kabupaten Gunungkidul.

"Saya sangat berharap Pemkab Gunungkidul serius menangani kasus antraks. Dalam arti, usulan kami dulu tolong direalisasikan," kata Nanung Danar Dono Minggu (10/3/2024).

Pihaknya pernah mengusulkan agar Pemkab Gunungkidul menyediakan mobile inside incinerator yakni, alat kremasi mobile. Sapi atau kambing terkena antraks dibakar sampai menjadi abu di lokasi.

"Bisa dibawa kemana-mana dan membakarnya itu onside tempat ditemukannya ternak mati akibat antraks," ucapnya.

Sebab, jika ada sapi atau kambing mati terkena penyakit antraks dan dipindah kemana-mana sproranya bisa berceceran.

Waktu itu dia juga mengusulkan agar titik ditemukannya sapi atau kambing mati akibat antraks dibuat monumen sebagai penanda agar masyarakat ingat bahayanya penyakit tersebut.

"Kejadian ini berulang-ulang, berlarut-larut tidak rampung-rampung, sehingga butuh keseriusan pemerintah," jelasnya.

Nanung meminta agar Pemkab Gunungkidul mempertimbangkan penerapan status KLB antraks. Dengan begitu anggaran penanganan kasus bisa lebih maksimal.

"Kalau tidak ada KLB, tidak ada anggaran yang bisa diturunkan," bebernya. 

Jika tidak ada anggaran besarnya akhirnya penanganan akan setengah-setengah dan yang menjadi korban PPL (petugas penyuluh lapangan).

"Mantri hewan disuruh ngalor ngidul tapi anggaran tidak ada," ungkapnya.

Sementara itu, Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan UGM bidang Mikrobiologi Prof. Agnesia Endang Tri Hastuti Wahyuni mengatakan munculnya kembali kasus anthrax disebabkan oleh 

Spora Bacillus Anthracis bersumber dari hewan yang disembelih atau dari lingkungan ternak. 

“Di tubuh hewan saat hidup, spora ini belum terbentuk. Namun saat disembelih dan bakteri yang ada dalam darah itu keluar lalu berinteraksi dengan udara akan membentuk spora,” kata Prof. Aeth Wahyuni.

Adapun spora bisa terbentuk jika bakteri Bacillus anthracis terpapar oksigen karenanya spora tidak pernah dijumpai dalam tubuh penderita atau dalam bangkai yang tidak diseksi atau dibuka.

"Penyakit anthraks tidak hanya menjangkit hewan ternak lainnya namun juga menular ke manusia," ujarnya. 

Maka hewan terserang anthrax maupun lokasi yang menjadi sumber anthrax harus diisolasi dengan tidak boleh ada satu pun lalu lintas ternak keluar masuk lokasi.

"Selain melakukan isolasi, para peternak perlu meningkatkan biosekuriti dan melakukan pengobatan pada hewan yang sakit serta memberi tambahan suplemen," ucapnya.

Menurutnya, hewan yang terjangkit bakteri anthrax bisa diobati. Bakteri ini mudah mati jika diberi antibiotik, antiseptik, desinfektan dan mati pada suhu diatas 54 derajat celcius selama 30 menit. 

"Sementara untuk hewan yang sehat diharuskan sebaiknya diberi vaksinasi selama dua kali selama setahun," terangnya. (gun)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#antrax #Gunungkidul #antraks