Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Belum Mampu Cukupi Kebutuhan 40 Ribu Ton, DIY Harus Impor Ikan Lele dari Jateng

Andi May • Jumat, 8 Maret 2024 | 07:05 WIB

 

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono saat kunjungan kerja di Koperasi Mina Mulya Maju Mandiri, Semin, Kamis (7/3).   
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono saat kunjungan kerja di Koperasi Mina Mulya Maju Mandiri, Semin, Kamis (7/3).  
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono saat kunjungan kerja di Koperasi Mina Mulya Maju Mandiri, Semin, Kamis (7/3).   
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono saat kunjungan kerja di Koperasi Mina Mulya Maju Mandiri, Semin, Kamis (7/3).  

 

RADAR JOGJA - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bakal menggelontorkan anggaran sebesar Rp 50 miliar untuk budidaya ikan lele di Kabupaten Gunungkidul. Dana itu akan diserahkan secara bertahap sampai dengan 2026 untuk peningkatan produksi ikan di Bumi Handayani.

Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono mengaku, jumlah produksi ikan lele di DIY belum cukup menjangkau kebutuhan masyarakat. Untuk kebutuhan masyarakat di DIY saja masih kurang, bahkan lele masih didatangkan dari wilayah Jawa Tengah.

“Jadi kami akan memfokuskan produksi komoditas ikan lele di Kabupaten Gunungkidul," ujar Trenggono saat kunjungan kerja di Koperasi Mina Mulya Maju Mandiri, Semin, Kamis (7/3).

KKP akan mendorong peningkatan produksi lele di Kabupaten Gunungkidul melalui kemampuan budidaya lele dan menyediakan pembiayaan pakan murah untuk petani lele.

"Baik dengan menyediakan pembibitan yang murah, instalasi pengelolaan limbah yang baik, dan pakan mandiri," ucapnya.

Pihaknya juga memastikan akan memberikan bantuan rumah produksi pakan lele sampai nanti mencapai skala produksi mengingat masalah terbesar petani lele terdapat pada harga pakan yang relatif mahal.

Trenggono menyebut, budidaya lele merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan ekonomi masyarakat khususnya di Bumi Handayani. Budidaya lele di Gunungkidul menurutnya, masih menggunakan metode tradisional. 

"Pemerintah harus hadir untuk memberikan bantuan baik langsung atau mempermudah untuk peningkatan produksi lele," ucapnya.

Menurutnya, kebutuhan masyarakat akan komoditas lele di DIY masing tinggi atau mencapai 40.000 ton dengan harga yang dipatok Rp 20 ribu perkilonya. "

Saya memperhatikan metode budidaya lele di Gunungkidul sudah cukup bagus, harapannya anggaran yang diberikan dapat memberikan sumbangsih untuk peningkatan protein di masyarakat," jelasnya.

KKP juga akan mendukung budidaya lele salah satunya dengan penyediaan bibit yang berasal dari wilayah DIY dan telah tersertifikasi.

Bupati Gunungkidul Sunaryanta mengatakan budidaya lele menjadi harapan masyarakat dalam rangka peningkatan ekonomi.

"Petani lele di Gunungkidul masih membutuhkan beberapa bantuan dalam rangka pengembangan ekonomi," ujar Sunaryanta.

 Baca Juga: Mitos Suara Gamelan di Balik Keindahan Air Terjun Tlogo Muncar Kaliurang Sleman, Seperti Apa Kisahnya...

Sunaryanta menyebut, kendala yang dialami para petani lele ialah sumber air untuk budidaya. Wilayah kawasan karst membuat para petani sulit mendapatkan sumber air.  "Untuk ternak saja kami membutuhkan sekitar 19 juta liter perhari dan masyarakat 20 juta liter perhari," sebutnya. (cr6/pra)

Editor : Heru Pratomo
#kementerian kelauan dan perikanan #ikan lele #sakti wahyu trenggono #kkp #DIY