Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul mencatat 19 rumah di Kapanewon Patuk rusak akibat bencana hidremeteorologi.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Gunungkidul Sumadi menyebut, selain pohon tumbang, angin puting beliung juga membuat genting-genting rumah warga diterbangkan angin.
"Memang sempat terjadi angin puting beliung di Kapanewon Patuk, namum hanya sebentar saja, skalanya masih kecil," ujar Sumadi saat dikonfirmasi, Kamis (29/2).
Kerusakan terbanyak, kata Sumadi, yakni angin kencang dan pohon tumbang yang menimpa sejumlah rumah warga dengan sejumlah kerusakan bangunan.
"Kebanyakan hanya genting yang rusak, kerusakan juga dalam kategori ringan," ucapnya.
Tak hanya itu, bencana hidremeteorologi juga menimpa sejumlah bangunan di Kapanewon Playen dan Wonosari. Hujan yang disertai angin kencang pada waktu sore itu membuat beberapa pohon tumbang dan menimpa rumah warga.
"Lima rumah warga dan satu dua tiang listrik tertimpa pohon di Wonosari dan Playen," terangnya.
Akibatnya, kerusakan sejumlah bangunan dan tiang akibat bencana hidremeteorolgi ditaksir mencapai Rp 7.300.000. Beruntungnya, tidak ada korban jiwa ataupun korban luka yang tertimpa pohon tumbang.
Pihaknya mengimbau agar masyarakat selalu meningkatkan kewaspadaan dan kesigapan mengingat cuaca ekstrem diprediksi akan terjadi hingga April mendatang.
Sementara itu, Kepala Kelompok Data dan Informasi Stasiun Klimatologi DIY Etik Setyaningrum membenarkan adanya angin puting beliung di wilayah Kapanewon Patuk.
Etik menjelaskan, adanya angin puting beliung akibat munculnya awan cumolonimbus serta angin kencang di Kabupaten Gunungkidul.
"Angin puting beliung dapat berpotensi muncul di mana saja, selama adanya awan cumolonimbus dan angin kencang yang melanda," ujar Etik.
Menurutnya, awan cumolonimbus muncul ketika masa-masa peralihan musim dari hujan ke kemarau. "Masa-masa transisi biasanya pada Bulan Maret hingga April," katanya.
Cuaca ekstrem, kata Etik, melanda hampir seluruh wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta. Adanya awan cumolonimbus dapat memicu munculnya angin puting beliung.
"Untuk itu masyarakat harus selalu waspada, apalagi jika ada awan cumolonimbus disertai angin kencang selama masa cuaca ekstrem," pungkasnya.
Editor : Bahana.