Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dugaan Kasus Perundungan Anak Disabilitas di Gunungkidul Berakhir Damai, Siswa Kumpulkan Uang untuk Biaya Pengobatan

Andi May • Minggu, 25 Februari 2024 | 20:49 WIB

 

Kepala Sekolah Sutoto Sudarujian saat ditemui di sekolah, Jumat (23/2).
Kepala Sekolah Sutoto Sudarujian saat ditemui di sekolah, Jumat (23/2).
GUNUNGKIDUL - Dugaan kasus perundungan siswa disabilitas di Gunungkidul berakhir damai.

Sebelumnya, kasus perundungan melibatkan dua siswa disabilitas berinisial RAN dan R siswa Sekolah Menengah Pertama di Gunungkidul.

Keduanya terlibat perselishan saat jam istrahat di lingkungan sekolah hingga hRAN mengalami patah pada jari kelinging berujung dilarikan ke rumah sakit, Rabu (21/2/2024).

Pihak sekolah menyatakan penyebab perkelahian dikarenakan kesalahpahaman antara kedua siswa tersebut.

Kepala Sekolah Sututo Sudarujian mengatakan, pihak orang tua dari kedua siswa sepakat untuk menyelesaikan kasus secara kekeluargaan.

"Hasil mediasi, kedua orang tua siswa sepakat berdamai," ujar Sutoto saat dihubungi, Minggu (25/2).

Proses mediasi dilakukan di sekolah dengan melibatkan, kedua orang tua siswa, Bhabinkamtibmas, Unit PPA Polres Gunungkidul, TNI, dan Dinas Pendidikan.

"Kedua orang tua juga telah menandatangani akta perdamaian dan disaksikan semua lembaga yang hadir," ucapnya.

Sutoto juga menuturkan para siswa dan guru secara sukarela mengumpulkan uang untuk biaya pengobatan RAN yang mengalami luka-luka akibat perselisihan itu.

"Kurang lebih Rp 1 juta terkumpul dan telah kami serahkan ke orang tua RAN," ucapnya.

RAN juga rencananya dirujuk di salah satu rumah sakit yang ada di Solo untuk dilakukan operasi pada jari kelingking yang patah.

Sedangkan, R telah pulih dan mengikuti proses belajar di sekolah.

"Kami berharap, RAN dapat cepat pulih serta dapat mengikuti kembali proses belajar di sekolah," ucapnya.

Mengantisipasi kasus serupa agar tidak terjadi, kata Sutoto pihaknya akan gencar mengedukasi anak didiknya untuk menanamkan rasa empati ke teman-temannya.

"Kami pastikan tidak ada lagi kasus-kasus seperti ini (dugaan perundungan). Sebelumnya juga kami telah mengedukasi anak-anak untuk menanamkan rasa empati mengingat sekolah kami bersifat inklusi," pungkasnya.

Editor : Bahana.
#siswa disabilitas #Gunungkidul #Perundungan