Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Terkait Dugaan Perundungan Siswa Difabel di Gunungkidul, Kepala Sekolah Unkap Kronologinya...

Andi May • Jumat, 23 Februari 2024 | 20:04 WIB

 

Kepala Sekolah Sutoto Sudarujian saat ditemui di ruangannya, Jumat (23/2).
Kepala Sekolah Sutoto Sudarujian saat ditemui di ruangannya, Jumat (23/2).
GUNUNGKIDUL - Pihak sekolah angkat suara terkait dugaan kasus perundungan yang dialami siswa disabilitas di salah satu SMP di Kabupaten Gunungkidul.

Pasalnya, siswa yang disabilitas berinisial RAN (13) yang diduga menjadi korban bullying harus dilarikan ke rumah sakit dengan kondisi jari kelingking patah.

Diketahui, RAN sejak lahir memiliki keterbatasan fisik yakni dengan kondisi satu tangan.

Kepala Sekolah Sutoto Sudarujian mengatakan, peristiwa dugaaan perundungan di sekolah berawal kesalahpahaman antara RAN dan R hingga terjadi perselisihan, Rabu (21/2) siang.

Bahkan, keduanya kata Suroto merupakan siswa dengan kebutuhan khusus.

"Siswa satunya difable dan yang satunya tunagrahita (orang dengan kondisi intelektual kognitif di bawah rata-rata), ujar Sutoto saat ditemui di sekolah, Jumat (23/2).

R saat itu, sedang menendang-nendang dinding tripleks lalu ditegur oleh RAN dengan menyebut nama orang tua R. Tak terima disebut nama orang tuanya, R lantas mengejek fisik RAN.

"R mengejek RAN dengan menyuruh untuk membentangkan tangan," katanya.

Sutoto menuturkan, RAN tersulut emosi karena ejekan yang didapatkan dan membogem wajah temannya sebayanya itu hingga akhirnya terluka.

Ia juga menerangkan pukulan RAN membuat jari kelingkingnya sendiri patah.

"Kemungkinan pukulan RAN terlalu kuat membuat jari kelingkingnya sendiri patah, bukan karena tindak kekerasan," ungkapnya.

Pihaknya menganggap peristiwa itu bukanlan perundungan melainkan kesalahpahaman kedua siswanya.

Baca Juga: Pekerja Paling Bahagia di Dunia Ada di Negara Ini, Berikut Daftarnya !

"Saat kami mendapatkan informasi mengenai perselisihan mereka, kami pun membawa ke rumah sakit karena ada yang terluka," ucapnya.

Sedangkan R, hanya mendapatkan penanganan dari guru-guru sekolah atas luka bogem yang didapatkannya dari RAN.

"Keesokan harinya kami lakukan mediasi antara kedua orang tua siswa yang bersangkutan," tuturnya.

Pihaknya juga melakukan pendampingan psikologi terhadap dua siswa yang terlibat perselisihan. Peristiwa itu juga telah disampaikan ke Dinas Pendidikan Kabupaten Gunungkidul.

Sutoto menjelaskan, antisipasi bullying di lingkungan sekolah terus digencarkan mengingat sekolah yang dipimpinnya bersifat inklusi.

"Kami selalu mengingatkan kepada siswa-siswa untuk memiliki rasa empati, kami membangun hubungan yang baik layaknya keluarga, makanya setelah mendengar adanya kejadian itu kami kaget," tuturnya.

Ditemui terpisah, Kasat Reskrim Polres Gunungkidul AKP Andika Arya Pratama, pihaknya belum menerima laporan mengenai tindak perundungan yang terjadi di lingkungan sekolah.

"Namun siang nanti, dari unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Gunungkidul akan menyambangi sekolah tersebut untuk meminta klarifikasi dari pihak sekolah," ujar Andika kepada awak media.

Meski begitu, pihaknya akan melakukan koordinasi dengan dinas terkait untuk penindakan lebih lanjut mengingat keduanya anak di bawah umur. 

Editor : Bahana.
#siswa difabel #Perundungan #Gunungkidl