GUNUNGKIDUL - Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Gunungkidul menyebut 25.619 hektar tanaman padi akan panen pada bulan Maret 2024 mendatang.
Kepala DPP Gunungkidul Rismiyadi menyebut, kondisi pertanian padi di Bumi Handayani tidak menjadi penyebab kenaikan harga beras di pasaran.
Ia mengatakan, stok beras di Kabupaten Gunungkidul masih dalam kondisi aman bahkan surplus.
"Stok tersedia, mengenai kenaikan harga beras itu langsung dari kebijakan pusat," ujar Rismiyadi saat dihubungi, Senin (19/2).
Bahkan menurutnya, pada Februari 2024, petani padi mulai menanam kembali seluas 139 hektar dengan memanfaatkan curah hujan yang mulai turun kembali.
"Januari kemarin, kami mencatat petani padi mulai kembali menanam seluas 25.619 hektar dan diprediksi akan panen pada Bulan Maret mendatang," ucapnya.
Rismiyadi menyebut, Elnino yang melanda pada Tahun 2023, sangat berdampak pada petani padi di Kabupaten Gunungkidul.
Menurutnya, kekeringan menjadi penghambat produktivitas para petani padi di Gunungkidul.
"Kalau panen terakhir itu Bulan Juli 2023, setelah itu Elnino, kemudian menanam kembali di Bulan Januari 2024," ucapnya.
Selama Elnino melanda, kata Rismiyadi, para petani mengandalkan air hujan yang ditampung dan saluran irigasi yang masih memiliki ketersediaan air.
Meski begitu, Rismayadi memastikan stok beras di Kabupaten Gunungkidul melebihi kebutuhan.
"Daerah yang mengandalkan saluran irigasi itu di daerah Ponjong, Karangmojo, Nglipar dan Wonosari," sebutnya.
Baca Juga: BMKG Beberkan Penyebab Cuaca Terasa Gerah di Yogyakarta Beberapa Hari Terakhir, Ternyata Karena Ini!
Pihaknya juga mengungkapkan, pertanian di Kabupaten Gunungkidul khususnya padi tidak menemukan kendala yang mengganggu kerja para petani.
"Sejauh ini belum ada hama yang berpotensi mengganggu proses penanaman padi oleh petani," jelasnya.(cr6)