GUNUNGKIDUL - Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul bakal menjadikan vaksin Japanese Encephalitis (JE) sebagai imunisasi rutin terhadap bayi.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Gunungkidul Sidiq Hery Sukoco mengatakan, pihaknya telah merancang rencana kegiatan pencegahan penyebaran virus JE. Salah satunya yakni melakukan vaksinasi.
"Pelaksanaan vaksinasi JE rencananya akan dimulai pada September hingga Oktober 2024 mendatang," ujar Hery saat dihubungi, Senin (16/1).
Baca Juga: Mengaku Jadi Korban Klitih, Ternyata Habis Duel dengan Kawan Sendiri hingga Luka di Pinggang
Vaksinasi JE akan menyasar kalangan yang berusia 0 hingga 15 tahun. Sedangkan untuk bayi yang telah berusia 10 bulan akan menjadi imunisasi rutin pada tahun 2025 mendatang.
Meskipun demikian, pihaknya memastikan belum adanya laporan mengenai masyarakat yang terkena virus yang berbahaya itu.
"Upaya yang kami lakukan yakni penguatan regulasi, pendataan hingga Bulan Juni 2024 dan peningkatan kapasitas bagi petugas imunisasi," ucapnya.
Selain itu juga, pihaknya juga akan melakukan sosialisasi dan advokasi kepada lintas sektor, internal dinkes, puskesmas, rumah sakit, klinik swasta, dan bidan praktik mandiri.
Heri menyebut logistik dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dijadwalkan akan diterima pada Bulan Juni 2024 mendatang.
"Setelah itu, kami akan lakukan evaluasi pelaksanaan," ungkapnya.
Sementara itu, Kabid P2 Dinkes DIY Setiyo Harini mengatakan, pihaknya telah mengarahkan Dinkes kabupateb/kota untuk memperkuat surveilans atau pengamatan kasus suspek terduga JE agar dapat diantisipasi sejak awal.
"Satu kasus JE terjadi di wilayah DIY Tahun 2015 silam, setelah itu tidak pernah lagi ada kasus JE," ungkapnya.
Menurutnya, virus JE rentan menular pada anak di bawah usia 15 tahun. Apalagi, proses penyebaran virus JE ditularkan melalui nyamuk Culex Sp yang terinfeksi virus membahayakan itu.
"Penularan virus JE bukan dari manusia ke manusia, melainkan nyamuk Culex Sp," ujar Setiyo.
Baca Juga: Sutradara Hanung Bramantyo Akan Remake Drama Korea “Descendants Of The Sun” Jadi Film Indonesia
Setiyo menjelaskan, indikasi gejala yang tertular virus JE yakni demam, perubahan status mental, confusion atau kebingungan, disorientasi, kesulitan bicara, koma, kejang-kejang yang disertai gejala awal meningkatnya iritabilitas.
"Masyarakat dapat melakukan antisipasi yakni dengan perilaku hidup bersih dan sehat, pemberantasan sarang nyamuk (PSN), menghindari gigitan nyamuk, pemeriksaan kesehatan segera apabila ada gejala dan imunisasi," ucapnya.
Pihaknya juga telah melakukan koordinasi dengan Kemenkes RI terkait pelaporan suspek, Pengiriman spesimen ke Balai Besar Labkesmas Yogyakarta (Eks BBTKLPP) bagi pasien yang berobat di faskes wilayah DIY meskipun bukan warga atau domisili DIY, dan permintaan Logistik imunisasi.
Kendati demikian, pihaknya menyerukan semua pihak untuk mensukseskan program imunisasi JE yang rencananya dilaksanakan secara serentak.
"Dimulai (Kampanye) pada September 2024 pada sasaran anak usia kurang dari 15 tahun untuk melindungi masyarakat dari penularan JE," imbuhnya. (cr6)