Akhir tahun ini lima embung dibangun disejumlah wilayah Kabupaten Gunungkidul. Implementasi teknologi panen hujan ini diharapkan bisa meningkatkan produksi pertanian.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Gunungkidul Rismiyadi mengatakan, embung yang selesai dibangun akhir tahun ini ada lima titik. Yakni Kalurahan Katongan, Nglipar; Gari dan Wareng di Kapanewon Wonosari. Kemudian di Kalurahan Kepek, Saptosari dan Girisekar, Kapanewon Panggang."Nilai pembangunan di setiap titik Rp 115 juta," kata Rismiyadi Kamis (30/11).
Dia menjelaskan, pembangunan embung merupakan program dari Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, Kementerian Pertanian. Progresnya sekarang sudah mencapai 60 persen."Pembangunan embung dengan sistem swakelola melibatkan kelompok tani penerima manfaat di wilayah sekitar," ujarnya.
Embung dengan luas 20 x 15 meter dan kedalaman sekitar tiga meter ditarget selesai akhir tahun ini. Setelah pengerukan rampung dipasang lapisan geomembran oleh tim dari Kementerian Pertanian."Di dasar embung ada lapisan geomembrane sehingga air tidak terserap ke dalam tanah,” jelasnya.
Pembangunan embung bertujuan untuk mendukung dan meningkatkan produktivitas pertanian wilayah setempat. Implementasi dari teknologi panen hujan yang berfungsi menampung air diharapkan bisa meningkatkan produksi pertanian.
Sementara itu, Sekretaris DPP Kabupaten Gunungkidul Raharjo Yuwono mengungkapkan, mayoritas lahan di Gunungkidul merupakan tadah hujan. Saat musim kemarau tiba luas tanam menyusut."Itu terjadi pada musim tanam kedua dan ketiga," kata Raharjo Yuwono.
Petani memilih menanam palawija seperti jagung, kedelai dan lainnya dengan mempertimbangkan kebutuhan air. Dikatakan, awal penghujan tahun ini menargetkan luas tanam padi 48.000 hektare."41.000 hektare lahan tadah hujan dan sisanya 7.863 hektare merupakan lahan sawah,” ungkapnya. (gun)
Editor : Din Miftahudin