RADAR JOGJA - Kasus perselingkuhan melibatkan perangkat kalurahan di Gunungkidul ibarat mengupas kulit bawang. Semakin dikupas semakin pedas karena muncul lipatan lain di dalamnya. Terbaru, dukuh di Kalurahan Patuk, Kapanewon Patuk didemo warga karena diduga main serong.
Massa dari Padukuhan Sumbertetes pada Senin (27/11) pagi menggeruduk kantor balai Kalurahan Patuk. Mereka kecewa karena Dukuh Sumbertetes Pudjijono diduga kuat telah bertindak asusila dengan salah satu warganya.
Warga meminta Lurah Patuk Catur Bowo memecat Dukuh Sumbertetes dan melengserkan jabatan. Sebagai orang yang 'dituakan' namun justru memberikan contoh negatif kepada masyarakat."Kami sudah tidak mau dipimpin oleh dukuh cabul," kata perwakilan aksi massa Sugito.
Berselingkuh dengan warganya sendiri, bahkan telah berhubungan layaknya suami istri. Tudingan warga tidak dibantah bahkan diakui oleh kedua pelaku. Melakukan perbuatan tidak senonoh di rumah pak dukuh."Keduanya telah berselingkuh selama 5 bulan, tapi dalam pengakuan baru sekali melakukan hubungan layaknya suami istri," ujarnya.
Ketika dalam musyawarah warga dan dalam aksi demonstrasi, Dukuh Pudjijono juga sudah menyatakan siap mengundurkan diri. Namun warga justru menolak karena menghendaki kasusnya diproses secara hukum."Tidak semudah itu mundur. Kami ingin pak lurah memberhentikan dukuh tersebut dengan tidak hormat karena perbuatannya itu," tegasnya.
Warga lainnya, Gunawan menyebut aksi main serong dukuh itu sangat menyakitkan warga. Bukan hanya perselingkuhan, namun dukuh tersebut dianggap mata keranjang lantaran banyak ibu muda di padukuhan setempat sering digoda."Kami berharap kasus ini ditangani seadil-adilnya," kata Gunawan.
Lurah Patuk Catur Bowo angkat bicara. Dia mengaku siap menampung aspirasi masyarakat. Di dalam tuntutan tersebut, warga memberitahukan bahwa Dukuh Sumbertetes diduga selingkuh.Hari ini sebenarnya saya panggil (pak dukuh) untuk klarifikasi. Tetapi malah ada demo ini," kata Catur.
Menurutnya, Dukuh Sumbertetes sudah bersedia mengundurkan diri namun ditolak oleh warga. Peserta aksi menginginkan agar dirinya memecat dengan tidak hormat dukuh tersebut. Namun pihaknya membutuhkan dasar hukum yang kuat."Dan tadi warga berniat melaporkan aksi perselingkuhan tersebut ke polisi," ujarnya.
Oleh karena itu, dia menunggu putusan inkrah dari pengadilan guna memutuskan nasib salah satu dukuh di wilayahnya. (gun/din)
Editor : Satria Pradika