GUNUNGKIDUL - Pengerjaan proyek pembangunan RSUD Saptosari menjadi sorotan. Progres proyek sekitar Rp 12 miliar dinilai masih lamban, sehingga capaiannya pun minus atau tidak mencapai target sesuai jadwal.
Hal ini diungkapkan Staf Ahli Bupati Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda Kabupaten Gunungkidul Eddy Praptono saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) di RSUD Saptosari Rabu (1/11).
"Di awal serah terima jabatan (direktur) progresnya minus sampai 11 persen waktu itu," kata Eddy Praptono.
Kemudian dilaksanakan dievaluasi, targetnya setiap minggu berkurang dua persen. Terbaru minggu kemarin, pengerjaan tinggal minus lima persen. Artinya, diharapkan masih bisa diselesaikan.
"Ini masih ada waktu sekitar 50 hari kalender sehingga akhir tahun bisa diselesaikan semuanya," ujarnya.
Sisa waktu terakhir adalah pengerjaan pada finishing dan fabrikasi seperti, air conditioner unit, AC unit dan yang lain. Posisi minggu lalu semua barang telah by order tinggal pemasangan.
"Memang ini menjadi perhatian pak bupati dan pak sekda untuk bisa memantau semuanya dan saya ditugasi untuk percepatan," terangnya.
Menurutnya, tanda tangan kontrak proyek berlangsung sejak Juli dan berakhir pada pada 18 Desember 2023.
Mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPUPRKP) Kabupaten Gunungkidul itu berharap proyek selesai tepat waktu.
"Kalau kendala minusnya ini mungkin modal (kontraktor) terbatas," ungkapnya.
Walau diakui dalam proses pengadaan memang tidak ada syarat pemenang tender mempunyai kemampuan keuangan.
Sementara itu, Direktur Utama RSUD Saptosari Damayanti mengatakan, selama ini ruang rawat inap tidak memadai. Jika gedung rawat inap baru tersebut sudah jadi nanti semua akan pindah.
"Harapan kami jika bangunan ini jadi, rawat inap dapat digunakan. Total ada 20 kamar tidur disesuaikan dengan standar BPJS," kata Damayanti. (gun)