GUNUNGKIDUL - Kenaikan harga beras ternyata tidak berbanding lurus dengan pendapatan petani. Di Gunungkidul, meski dikenal sebagai penyangga pangan wilayah Provinsi DIY, namun petaninya tidak menikmati keuntungan dari lonjakan harga tersebut.
Anggapan bahwa petani mendulang untung dari kenaikan harga beras tidaklah benar. Produsen, dalam hal ini petani tidak menikmati kenaikan harga beras.
Realitas tersebut diakui oleh Kepala Bidang (Kabid) Ketahanan Pangan Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Gunungkidul Luh Gde Suastini.
"Kalau dijual tentunya menguntungkan, tetapi saat ini petani sebagian besar tidak menjual gabahnya," kata Luh Gde Suastini pada Selasa (17/10).
Luh menyebut selama ini gabah milik petani di wilayah Gunungkidul kebanyakan untuk keperluan konsumsi. Memilih disimpan sebagai cadangan pangan atau ditempatkan pada lumbung.
"Baru dijual kalau sudah mau panen lagi," ujarnya.
Dia mengatakan, kenaikan tertinggi harga gabah saat ini antara Rp 7500 sampai dengan Rp 8000 per kilo gram. Nilai ini berada diatas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang ditetapkan. Berdasarkan aturan tersebut HPP untuk GKG di penggilingan sebesar Rp 6.200 per kilogram.
"Untuk gabah kering giling (GKG) harga kisaran Rp 7.500 sampai dengan Rp 8.000 per kilogram," ucapnya.
Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Gunungkidul, kenaikan harga tidak hanya terjadi pada tingkat penggilingan, namun juga dari petani.
Selama September 2023, rata-rata harga GKG di tingkat petani Rp 7.016,67 per kilogram, naik 19,62 persen, dan di tingkat penggilingan Rp 7.100,00 per kilogram, naik 19,16 persen.
Sementara itu, untuk menstabilkan harga beras, Dinas Perdagangan (Disdag) Kabupaten Gunungkidul terus menggencarkan operasi pasar.
Hingga sekarang harga beras masih tinggi, jenis medium Rp 13 ribu per kg. Sementara beras jenis premium Rp 14 ribu hingga Rp 15 ribu per kg.
Kepala Bidang Perdagangan Disdag Kabupaten Gunungkidul Asar Janjang Riyanti mengatakan, bekerjasama dengan pihak terkait, terus menyalurkan program Cadangan Pangan Pemerintah (CPP).
Meski diakui upaya menjaga Pasokan Harga Pangan (SPHP) tersebut belum mampu menurunkan harga.
"Besok rencananya ada OP di Pasar Argosari Wonosari. Diinformasikan ada 8 ton beras, setiap pedagang mendapatkan 250 kilogram. Total ada 32 pedagang," kata Asar Janjang Riyanti. (gun)