RADAR JOGJA - Kabut tebal di perairan Pantai Pantai Selatan Gunungkidul memakan korban. Kapal jukung yang dinaiki dua nelayan menabrak tebing. Karena jarak pandang yang terbatas. Dalam peristiwa tersebut satu anak buah kapal (ABK) selamat, namun seorang di antaranya meninggal dunia.
Dari informasi yang dihimpun, kecelakaan laut (laka laut) terjadi pada Sabtu (14/10) malam sekitar pukul 19.00 WIB. Kapal jukung mengalami kecelakaan ketika hendak bersandar ke Pantai Ngrenehan, Kalurahan Kanigoro, Kapanewon Saptosari.
Kapolsek Saptosari AKP Kusnan Priyono mengonfirmasi adanya kejadian ini. Dia mengatakan, insiden laka laut dialami dua nelayan masing-masing atas nama Surat,62, warga Gebang, Kanigoro, Saptosari, dan Jono,47, warga Mendak, Kanigoro, Saptosari.
"Korban atas nama Surat meninggal dunia," kata Kusnan pada Minggu (15/10) pagi.
Dia menjelaskan, laka laut bermula ketika kapal jukung pada Sabtu (14/10) sekitar pukul 16.00 WIB dua ABK berangkat dari Pantai Ngrenehan hendak beraktivitas malam mencari ikan di Perairan Gunungkidul.
Tiga jam kemudian, atau sekitar pukul 19.00 WIB kapal akan bersandar ke Pantai Ngrenehan. Namun dalam perjalanan muncul kabut tebal mengakibatkan jarak pandang terbatas.
"Diduga terjebak kabut tebal, tekong kebingungan menentukan arah bersandar," ujarnya.
Kapal jukung mengarah ke Pantai Ngrawah sebelah timur Pantai Ngrenehan. Nahas, pantai itu ternyata tidak bisa digunakan untuk melakukan pendaratan kapal karena terdapat batu karang dan tebing. Kemudian kapal tergulung ombak menabrak tebing.
"Kedua ABK melompat dari kapal, satu berhasil menepi dan seorang diantaranya meninggal dunia," jelasnya.
Sementara itu, Sekretaris Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah Operasi II Pantai Baron, Surisdiyanto mengatakan, sesaat setelah menerima laporan regu penyelamat diterjunkan. Upaya pencarian berlangsung ekitar 30 menit. Akhirnya korban berhasil ditemukan dan dievakuasi menuju daratan.
"Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Sementara satu unit kapal jukung hancur dan alat tangkap rusak," kata Surisdiyanto.
Editor : Heru Pratomo