GUNUNGKIDUL - Usia remaja rentan mengalami gangguan mental. Padahal, kesehatan mental adalah aspek penting di dalam kehidupan. Pusat rehabilitasi Yakkum mendorong revitalisasi Unit Kesehatan Sekolah (UKS).
Hal ini terungkap dalam acara sarasehan Penguatan Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM) dalam mengimplementasikan kesehatan jiwa berbasis masyarakat di ruang rapat Setda Kabupaten Gunungkidul Selasa (10/10).
Baca Juga: Target PAD Wisata Masih Kurang Rp 11,4 Miliar, Sisa Waktu Tiga Bulan Jadi Tantangan Dinas Pariwisata
Psikiater RSUD Wonosari dr Ida Rochmawati mengatakan, kesehatan mental atau jiwa merupakan masalah serius. Namun, masih dikesampingkan. Padahal, kesehatan mental adalah aspek yang sangat penting di dalam kehidupan serba modern.
"Belakangan ini kita sangat banyak mendengar kasus bunuh diri. Dan ini jelas tidak bisa lepas dari kesehatan mental," kata Ida Rochmawati.
Dikatakan, mengutip dari data World Health Organization (WHO), setiap 4 detik ada orang meninggal dunia karena bunuh diri. Kemudian 10-15 persen masyarakat dunia saat sekarang mengalami depresi.
"Angka kematian akibat bunuh diri ini justru lebih banyak dibanding dengan akibat perang," ungkapnya.
Baca Juga: Pakar UMBY: Kasus Bunuh Diri Anak Muda Didominasi Masalah Sosial
Lebih memprihatinkan lagi, kata dia, dari survei terbaru yang menunjukkan bahwa remaja di Indonesia sebenarnya mengalami gangguan mental luar biasa. Namun, sangat disayangkan justru banyak yang tidak menyadari.
Satu dari 20 remaja di Indonesia mengalami gangguan kejiwaan. Berbagai persoalan yang menghinggapi sehingga mengakibatkan gangguan kejiwaan pada remaja di Indonesia kian bertambah banyak.
Lebih memprihatinkan lagi, kata dia, dari survei terbaru yang menunjukkan bahwa remaja di Indonesia sebenarnya mengalami gangguan mental luar biasa. Namun, sangat disayangkan justru banyak yang tidak menyadari.
Satu dari 20 remaja di Indonesia mengalami gangguan kejiwaan. Berbagai persoalan yang menghinggapi sehingga mengakibatkan gangguan kejiwaan pada remaja di Indonesia kian bertambah banyak.
Baca Juga: Harga Beras di Gunungkidul Belum Juga Turun, Masih Rp 15 Ribu Per Kg
"Pengaruh dari luar yang tanpa filter, kurangnya dukungan orangtua atau keluarga hingga tekanan dari sekolah memang memicu banyaknya remaja yang mengalami gangguan kejiwaan," jelasnya.
Sementara itu, Manajer Project Kesehatan Jiwa Berbasis Masyarakat Yakkum Siswaningtyas Tri Nugraheni mengaku belum bisa menyampaikan data kasus jumlah gangguan kejiwaan di DIY maupun Gunungkidul.
"Tapi, memang ada kenaikan sejak Pandemi Covid-19, terutama usia produktif," kata Siswaningtyas.
"Pengaruh dari luar yang tanpa filter, kurangnya dukungan orangtua atau keluarga hingga tekanan dari sekolah memang memicu banyaknya remaja yang mengalami gangguan kejiwaan," jelasnya.
Sementara itu, Manajer Project Kesehatan Jiwa Berbasis Masyarakat Yakkum Siswaningtyas Tri Nugraheni mengaku belum bisa menyampaikan data kasus jumlah gangguan kejiwaan di DIY maupun Gunungkidul.
"Tapi, memang ada kenaikan sejak Pandemi Covid-19, terutama usia produktif," kata Siswaningtyas.
Mereka terkena depresi dan skizofrenia atau gangguan mental yang terjadi dalam jangka waktu panjang. Gangguan tersebut menyebabkan penderita mengalami halusinasi, delusi atau waham, kekacauan berpikir, dan perubahan perilaku.
"Kami mendorong revitalisasi Unit Kesehatan Sekolah (UKS) tak sekedar untuk merawat kesehatan fisik semata, tetapi juga kesehatan jiwa," ujarnya.
Karena itu pihaknya intensif mengumpulkan guru-guru bimbingan konseling untuk berbagi pengalaman dan peningkatan kapasitas anak. (gun)