RADAR JOGJA - Kebutuhan pangan di Provinsi DIJ sebesar 30 persen disangga dari Gunungkidul. Selain karena luas lahan, peningkatan produksi itu juga ditopang oleh beberapa program Pemkab Gunungkidul.
Dari semua kapanewon, angka prognosa produksi padi setiap tahunnya terbagi dalam dua komoditas. Masing-masing komoditas padi sawah dan padi gogo. Jenis padi gogo ditanam di kebun atau ladang dan tidak memerlukan irigasi khusus.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Gunungkidul Rismiyadi mengatakan, dari total 18 kapanewon di Kabupaten Gunungkidul ada lima kapanewon penghasil padi terbesar baik jenis sawah maupun gogo."Kami terus berupaya meningkatkan produksi padi, melalui pengembangan varietas unggul, pemupukan, perbaikan saluran irigasi, dukungan mesin pertanian dan yang lain," kata Rismiyadi, Selasa (3/10/23)
Dia menjelaskan, tahun ini angka prognosa untuk jenis sawah penghasil padi terbesar pertama Kapanewon Semin dengan total produksi rata-rata setiap musim panen sebesar 26.083.80 ton. Kedua Patuk, 16.147.56 ton, Ngawen 12.549.33 ton, Gedangsari 11.975.40 ton, dan Kapanewon Ponjong 10.307.38 ton.
Kemudian angka prognosa 2023 produksi komoditas padi gogo peta penghasil padi mengalami perubahan. Terbanyak Kapanewon Semanu dengan produksi 18.356.18 ton, Ponjong sebanyak 17.070.33 ton, Karangmojo 16.413.98 ton, Wonosari sebanyak 16.187.50 ton dan Kapanewon Saptosari 16.118.48 ton."Dalam peningkatan produksi kami juga menguatkan kelembagaan petani," ujarnya.
Sekretaris DPP Kabupaten Gunungkidul Raharjo Yuwono mengatakan, ketersediaan air selama tiga musim tanam dan potensi luas lahan padi mempengaruhi hasil produksi. "Jadi semua tergantung curah hujan perbedaannya bisa 1.000 hektare," kata Raharjo.
Jika curah hujan cukup maka potensi padi lahan kering meningkat, karena bisa tanam padi lahan kering pada musim tanam kedua (mt2). Berbeda dengan jenis lahan sawah, usai musim panen bisa tetap digunakan.
Lurah Hargomulyo Sumariyanta mengatakan, peningkatan produksi padi telah didukung oleh infrastruktur memadai. Beberapa waktu lalu jalan sepanjang 2.180 meter dibangun untuk mempermudah akses 26 hektare lahan pertanian."Lokasi kami ada di pegunungan tapi mampu menghasilkan tanaman pangan, palawija, padi dan sayur-sayuran,” kata Sumariyanta.
Dikatakan, pembangunan jalan usaha tani menggunakan dana desa sebesar 20 persen. Perlu anggaran selama tiga tahun untuk menyelesaikan pembangunan.(gun/din)
Editor : Satria Pradika