RADAR JOGJA – Dampak kekeringan di Gunungkidul meluas. Darta BPBD Gunungkidul hingga akhir bulan ini, sudah ada 7.402 kepala keluarga (KK) yang mendapatkan bantuan air bersih melalui droping air. Mereka tersebar di 11 kapanewon, 19 kelurahan, 80 padukuhan, dan 256 RT.
Kepala BPBD Gunungkidul Purwono memprediksi, musim kemarau tahun ini akan berlangsung hingga 30 September. Dari 800 tangki air bersih yang disiapkan, BPBD telah menyalurkan 110 tangki. “1.196 tangki dan dari donator, pihak swasta ada 32 tangki (sudah disalurkan, Red)," ujarnya Rabu (30/8/23).
Untuk menangani kekeringan ini, Pemkab Gunungkidul juga menggulirkan program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas). Khususnya di kapanewon krisis air. Menyasar Kalurahan Bleblagieran, Playen; Kalurahan Pengkok, Patuk; dan Kalurahan Serut, Gedangsari.
“Masing-masing Pamsimas dianggarkan Rp 400 juta,” kata Kepala Bidang Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah BAPPEDA Gunungkidul Muhammad Fajar Nugroho.
Selain tiga lokasi itu, tahap pertama pembangunan Pamsimas menyasar Kalurahan Kampung, Ngawen; Kalurahan Bendung, Semin; dan Kalurahan Tegalrejo, Gedangsari.
Bupati Gunungkidul Sunaryanta pun berharap, warga penerima manfaat bisa menggunakan bantuan dengan maksimal. Pengelola juga diharapkan menyusun manajemen dengan baik.
“Saat ini (Pamsimas, Red) beroprasi akan ada perputaran uang di sini. Sehingga manajemen harus benar untuk menghindari perselisihan,” pesan Sunaryanta.
Selain itu, Sunaryanta juga telah memastikan kesiapan petugas untuk penanggulangan kekeringan. Dia mengintruksikan, agar jajarannya terus bersinergi dan siaga. "Kami minta meningkatkan kerja sama lintas sektoral serta memantapkan keterpaduan pelaksanaan tugas kemanusiaan di bidang penanggulangan bencana khususnya bencana kekeringan di wilayah Kabupaten Gunungkidul," kata Sunaryanta. (gun/eno)
Editor : Satria Pradika