RADAR JOGJA - Dua kepala keluarga (KK) warga Padukuhan Suru, Kalurahan Kampung, Kapanewon Ngawen terpaksa tinggal di atas bukit. Mereka terisolasi dari permukiman lain, karena tidak punya tempat tinggal di dataran rendah.
Dua KK itu masing-masing pasangan suami istri (pasutri) Tupan,50 dan Milestari serta satu anaknya yang masih sekolah. Kedua adalah pasutri Winarno dan Sugiyanti. Anggota keluarga ini terdiri dari 7 jiwa, di antaranya masih balita.
Kepada Radar Jogja, saat dihubungi melalui sambungan telepon, Tupan nampak berbicara terbata-bata. Itu karena pengaruh sinyal GPS yang tidak mampu menjangkau jaringan secara penuh."Butuh waktu tempuh sekitar 1,2 jam dari bawah (permukiman penduduk bawah bukit) untuk sampai ke rumah saya ini," kata Tupan.
Jalan setapak, hanya dapat ditempuh dengan cara jalan kaki. Sementara untuk akses lampu penerangan, menurutnya, nggantol atau menyambung jaringan listrik milik warga yang ada di bawah bukit."Mau bagaimana lagi, sebenarnya kami ingin pindah rumah tapi tidak ada biaya," ucap buruh serabutan ini.
Sementara itu, tetangga satu-satunya di atas bukit, Winarno ternyata merupakan salah satu ketua RT di Padukuhan Suru. Nasibnya sama dengan Tupan, hingga kini terpaksa tinggal di perbukitan. Namun dia sedikit lebih beruntung lantaran posisi rumahnya berada di bawah kediaman Tupan."Rawan longsor dan muncul serangan monyet ekor panjang," kata Winarno.
Sebenarnya di atas bukit itu dulu total ada 22 KK. Namun lambat laun berkurang karena secara mandiri di 2020 mulai mereka mulai 'turun gunung' dan membangun rumah di dataran rendah."Tinggal kami-kami ini saja sekarang," ujarnya.
Sebenarnya mereka sangat ingin sesegera mungkin meninggalkan tempat itu. Kekhawatiran rawan longsor dan serangan monyet ekor panjang selalu menghantui. Pihaknya berharap uluran tangan dari pemerintah dan para dermawan.
Apakah selama ini bantuan dari pemerintah belum ada, menurut mereka sudah. Diantara anggota keluarga mendapatkan bantuan sosial (bansos) Keluarga Harapan (PKH. Untuk tawaran program bedah rumah, kedua KK tersebut tidak berani."Bedah rumah dapat anggaran sekitar Rp 10 juta. Kami tidak punya uang untuk melanjutkan pembangunan rumah," terangnya. (gun/din)