Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

1.043 Anak Drop Out dan Memilih Berhenti Sekolah

Gunawan RaJa • Senin, 24 Juli 2023 | 19:43 WIB
Ilustrasi Murid Sekolah Gunungkidul.(RADAR JOGJA FILE)
Ilustrasi Murid Sekolah Gunungkidul.(RADAR JOGJA FILE)

GUNUNGKIDUL - Angka putus sekolah di Kabupaten Gunungkidul masih tinggi. Utamanya, jenjang pendidikan SMP yang tidak melanjutkan ke jenjang SMA. Tahun lalu total data putus sekolah dan tidak melanjutkan pendidikan  jumlahnya mencapai 1.043 anak.


Hal tersebut dibenarkan oleh Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Gunungkidul Nunuk Setyowati saat dihubungi (24/7). Berasal dari data pokok pendidikan (dapodik), angkanya fluktuatif setiap tahun.


"Ini merupakan data tahun 2022 dan diambil awal tahun 2023," kata Nunuk Setyowati.


Masih berdasarkan data, angka penduduk tidak sekolah kriteria usia 7 sampai dengan 18 tahun. Drop out (DO) atau putus sekolah total 336 kasus. Terdiri dari jenis kelamin perempuan 96 orang dan laki-laki 240 anak.


Sementara lulus tidak melanjutkan pendidikan, total ada 7-7 anak. Terdiri dari laki-laki 468 anak dan perempuan sebanyak 239 anak. Sehingga total kumulatif pada tahun 2022 ada 1043 anak tidak sekolah.


Berdasarkan kriteria wilayah, angka putus sekolah terbanyak ada di Kapanewon Wonosari dengan 46 kasus. Disusul Kapanewon Playen dengan 41 kasus, Ponjong 29 kasus, Karangmojo dan Saptosari 27 kasus.

Gedangsari 25 kasus, Panggang 23 kasus, Patuk 21 kasus, Semin 16 kasus, Paliyan 15 kasus, Semanu 14 kasus, Tepus 12 kasus, Tanjungsari 11 kasus, Ngawen 8 kasus. Nglipar dan Purwosari 6 kasus, Rongkop 5 kasus dan Girisubo jumlah DO paling sedikit 4 kasus.


Lulus tidak melanjutkan grafiknya juga tinggi. Kapanewon Semanu terbanyak 77 kasus, Saptosari dan Wonosari 67 kasus, Gedangsari 64 kasus, Panggang 54 kasus, Karangmojo 51 kasus, Paliyan 46 kasus, Ngawen 31 kasus. Playen dan Ngawen 31 kasus, Nglipar, Ponjong dan Semin 30 kasus, Rongkop 23 kasus, Tepus 28 kasus, Girisubo dan Patuk 20 kasus dan terkecil Kapanewon Purwosari 13 kasus.  


Nunuk belum mengantongi data secara pasti penyebab kasus putus sekolah maupun tidak melanjutkan pendidikan. Karena, sedang diklat pihaknya menyarankan untuk menghubungi bagian perencanaan.


Radar Jogja berusaha menemui bidang perencanaan namun pejabat yang dimaksud sedang ada acara. Demikian juga dengan Sekretaris Dispendik Kabupaten Gunungkidul Taufik Aminudin juga belum dapat dikonfirmasi karena rapat.


Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Gunungkidul Heri Nugroho mengaku kaget dengan data kasus DO maupun tidak melanjutkan pendidikan di wilayah Gunungkidul. Pihaknya juga akan mempertanyakan penyebabnya.


"Faktornya (DO) maupun tidak melanjutkan) apa karena ekonomi, sosial dan budaya? kami akan coba komunikasi dengan disdik," kata Heri Nugroho. (gun) 

Editor : Amin Surachmad
#drop out #Pendidikan #Sekolah