Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tekan Stunting, Canangkan Program KIE 1000 HPK

Editor Content • Kamis, 2 Maret 2023 | 17:58 WIB
TEKAN STUNTING – Advokasi dan KIE dalam rangka percepatan penurunan stunting untuk mitra kerja dan pemangku kebijakan dengan BKKBN Jogjakarta di Wonosari (1/3).(HUMAS PEMKAB GUNUNGKIDUL UNTUK RADAR JOGJA)
TEKAN STUNTING – Advokasi dan KIE dalam rangka percepatan penurunan stunting untuk mitra kerja dan pemangku kebijakan dengan BKKBN Jogjakarta di Wonosari (1/3).(HUMAS PEMKAB GUNUNGKIDUL UNTUK RADAR JOGJA)
 

RADAR JOGJA – Prevalensi balita stunting Kabupaten Gunungkidul mencapai 23.6 persen. Atau naik 2.9 persen dan tertinggi se-Provinsi DIJ. Salah satu upaya pencegahan dengan mencanangkan program Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) 1.000 Hari Pertama Kehidupan).

Program tersebut sinergi antara Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) DIJ dengan Pemkab Gunungkidul. Tujuannya dalam rangka percepatan penurunan stunting atau penanganan balita kurang gizi.

Koordinator Bidang KSPK BKKBN DIJ Widiastuti Susani Anggraeni mengatakan, berdasarkan data prevalensi balita stunting di Gunungkidul mencapai 23.6 persen, naik 2.9 persen dan ini tertinggi di DIJ. "BKKBN mendapat prioritas dalam percepatan penekanan angka stunting. Salah satunya yakni dengan program KIE Pengasuhan 1.000 HPK (Hari Pertama Kehidupan) pada anak balita," kata Widiastuti Susani Angraeni dalam acara advokasi KIE di Wonosari kemarin (3/1).

Dia menjelaskan, perlu adanya perbaikan gizi, pengasuhan sehat serta lingkungan yang baik untuk menekan angka stunting. Program KIE Pengasuhan 1.000 HPK adalah wujud percepatan penurunan angka stunting, dan perlu mendapat dukungan seluruh pihak dengan sinergitas pentahelix.

Koordinator Program Manajer Satgas Percepatan Penurunan Stunting DIJ Asteria Heny Widayati menyampaikan berdasarkan data PPDM tindakan preventif tertinggi dilakukan oleh Kapanewon Tepus dan Kapanewon Karangmojo. Namun dengan tingginya tindakan preventif untuk mencegah stunting ternyata Kapanewon Karangmojo juga tertinggi dalam keluarga berisiko stunting."Di Gunungkidul sendiri ada 3 Kapanewon dengan keluarga berisiko stunting di antaranya Karangmojo, Semanu, dan Saptosari. Sedangkan untuk yang terendah yakni Panggang, Patuk, dan Wonosari," kata Heny.

Wakil Bupati Gunungkidul Heri Susanto mengatakan, tingginya kasus stunting perlu menjadi perhatian. Perlu intervensi dan evaluasi terkait dengan akurasi program dinas dalam rangka menurunkan angka stunting.“Sudah tepat belum program dinas dalam rangka menurunkan angka stunting," kata Heri.

Menurutnya, tingkat ekonomi juga memengaruhi penanganan stunting karena terkait dengan pemenuhan asupan gizi dan kesehatan untuk balita dan ibu hamil. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) hanya di angka 70. “Ini sudah menunjukkan jika tingkat ekonomi juga memengaruhi asupan gizi manusia," jelasnya. (gun/din) Editor : Editor Content
#Gunungkidul