Harga di sejumlah pasar tradisional, minyak goreng di kisaran Rp 15.250 sampai dengan Rp 20 ribu per liter. Sebelum program Minyakita digulirkan oleh pemerintah, harga migor di hingga menembus Rp 21 ribu per liter.
Kini harga berangsur murah normal. Sejumlah pedagang bersedia menandatangani pakta integritas dengan menjual Minyakita tidak di atas Harga Eceran Tertinggi (HET). Dari pasokannya sendiri Minyakita sekarang lebih mudah.
Kepala Seksi Distribusi, Bidang Perdagangan, Dinas Perdagangan (Disdag) Kabupaten Gunungkidul Retno Utami mengatakan, pemerintah terus berupaya menangani kelangkaan Minyakita. Salah satunya dengan rutin melakukan distribusi ke pedagang. “Hari ini (kemarin, Red) ada dua lokasi distribusi stok Minyakita di Wonosari dan Playen,” kata Retno kemarin (3/1).
Rincian, di Wonosari ada 900 krat untuk 30 pedagang. Sedangkan Playen sebanyak 500 boks untuk 18 pedagang. Sejauh ini sudah 17.280 liter Minyakita terdistribusi di Gunungkidul. Distribusi tercatat sebanyak 6 kali, bekerjasama dengan sejumlah distributor.“Distribusi Minyakita disesuaikan dengan permintaan pedagang. Segera dikirim jika bersedia menandatangani perjanjian tidak menjual melebihi HET Rp 14 ribu per liter,” ujarnya.
Pendaftaran dilakukan lewat aplikasi Simirah (Sistem Informasi Minyak Goreng Curah) dengan kartu identitas. Diharapkan ke depan distribusi melimpah Minyakita dapat mengatasi kelangkaan yang terjadi di pasaran, sekaligus menekan harga yang sekarang masih tinggi.
Sementara itu, salah seorang pedagang Pasar Playen Etik, mengaku telah membeli 40 boks Minyakita kemasan 1 liter. Diakui permintaan Minyakita cukup tinggi, karena harganya lebih murah dengan minyak goreng bermerek. "Kualitas Minyakita juga tidak. Sesuai perjanjian dijual tidak melebihi HET,” kata Etik. (gun/din) Editor : Editor Content