Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul, hujan turun hingga kemarin (3/10) diprediksi menelan kerugian materi hingga puluhan juta rupiah. Tidak ada korban jiwa, namun akses jalan penghubung antarkampung sempat terputus.
Laporan sementara hingga kemarin, diketahui ada empat lokasi mengalami longsor. Di wilayah Padukuhan Kedungpoh Lor, Kalurahan Kedungpoh, Kapanewon Nglipar, tebing setinggi lima meter dengan panjang mencapai 12 meter ambrol. Kemudian talut ambrol TK di Padukuhan Sawur, Kalurahan Sawahan, Kapanewon Ponjong. Jarak antara material longsoran dengan bangunan sekolah hanya satu meter.
Peristiwa ketiga di Padukuhan Srumbung, Kalurahan Pengkok, Kapanewon Nglipar. Tanah sepanjang sekitar 7 meter dengan ketinggian tiga meter longsor menutup akses jalan.
Tanah longsor juga menerjang Padukuhan Ngembes, Kalurahan Pengkok, Kapanewon Patuk. Tebing setinggi 25 meter ambles memanjang hingga 45 meter berikut dengan pohon-pohonnya.
Kepala BPBD Kabupaten Gunungkidul Purwono mengatakan, tanah longsor dipicu hujan dengan intensitas tinggi sejak Minggu (2/10) malam hingga Senin pagi. Pasca kejadian, petugas dan relawan dikerahkan menuju lokasi untuk membantu membersihkan material longsoran. Pihaknya memastikan dalam peristiwa ini tidak ada korban jiwa maupun luka. BPBD Gunungkidul juga telah berkoordinasi dengan kapanewon hingga kalurahan terkait pemetaan wilayah rawan bencana."Kami minta masyarakat lebih meningkatkan kewaspadaan dan memantau prakiraan kondisi cuaca yang dipublikasikan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG)," ujarnya.
Sementara itu, anggota Tim Reaksi Cepat (TRC) wilayah Kalurahan Kedungpoh, Kapanewon Nglipar Bambang mengatakan, satu kejadian Longsor di Padukuhan Kedungpoh Lor menimpa bagian belakang rumah milik Isbani. Warga Rt 04/03 tersebut mengetahui kejadian material tanah dan bebatuan runtuh sekitar pukul 5.25 WIB."Warga langsung gotong royong menyingkirkan material longsoran," kata Bambang.
Terpisah, Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jogjakarta Romadi mengatakan, dalam prakiraan cuaca musim penghujan dimulai sekitar awal atau pertengahan Oktober atau November."Bulan september belum masuk awal musim penghujan, karena di bulan ini angin timurannya masih kuat," kata Romadi. (gun/din) Editor : Editor Content