Jarik merupakan sebuah sebutan dalam bahasa Jawa untuk sebuah kain yang mempunyai motif batik dengan berbagai corak. Jarik biasa digunakan oleh sesepuh orang Jawa untuk keseharian. Biasanya jarik dipakai satu stel dengan baju atasan sembagi atau motif bunga.
Seorang warga Plumbungan, Putat, Patuk, Gunungkidul Wagiyem mengatakan, memakai jarik sejak kecil. Bahkan di usianya yang telah lanjut, sekitar 95 tahun, gaya berpakaian nenek dua anak ini tak pernah berubah.
“Ora tau ganti. Ket cilik nganti saiki nganggo jarik (tidak pernah ganti model, Red). Mulai kecil hingga sekarang memakai jarik, Red),” ungkap Wagiyem saat ditemui di rumah anaknya kemarin (30/9).
Apa tidak suka dengan model pakaian lain? Bukankah selama ini mode busana terus mengalami pergeseran? Mbah Wagiyem ketika diberondong pertanyaan ini justru tersenyum. “Nganggo tapih (jarik) kepenak (nyaman). Ra Gelem liyane (tak mau pakai model busana lain, Red),” ujarnya.
Seumur hidup pakai jarik? Simbah ini mengangguk. Dalam sehari ganti busana dua kali, tetap dengan style yang sama yakni jarik. Berarti memiliki banyak setelan jarik di rumahnya? Dia kembali melepas senyum. “Yo nek ono sik ngenei yo arep (kalau ada yang memberi, saya mau, Red),” ucapnya.
Kata Mbah Wagiyem, jenis setelan jarik terfavorit adalah merk Sido Mukti. Sementara warna kesukaan coklat motif kembang. Ketika ditemui Radar Jogja kemarin, ia menggunakan bawahan jarik warna coklat atasan baju batik warna trotol-trotol kembang kombinasi biru, merah dan putih. “Sedino adus ping loro, ganti pakean ping loro (sehari mandi dua kali, ganti pakaian juga dua kali, Red),” ungkapnya.
Nenek yang juga dikenal sebagai dukun pijat ini penampilannya sangat identik orang dulu dan memiliki karakter tersendiri. Menurutnya, cara memakai kain jarik tidak sulit, karena cukup diikat dengan sabukan atau stagen. “Wes biasa nganggo jarik, gampang (sudah biasa pakai kain jarik, jadi gampang, Red),” ungkapnya. (gun/laz) Editor : Editor Content