Ketua Komunitas Handayani Fish Squad Gunungkidul, Kismaya Sales Wibowo mengatakan, anggotanya berjumlah 30 orang tersebar disejumlah wilayah kapanewon. Melalui komunitas tersebut terjadilah perputaran uang. “Kami saling berbagi informasi mengenai jual beli ikan predator,” kata Kismaya Sales Wibawa saat dihubungi Kamis (3/12).
Bermarkas di Kalurahan Wareng, Kapanewon Wonosari, Kismaya memiliki 18 aquarium berisi berbagai jenis ikan predator. Jika dirupiahkan, asetnya mencapai belasan juta rupiah. Padahal modal awal hanya Rp 300 ribu. “Kami mulai terjun di bisnis ikan predator sejak muncul pandemi Covid-19,” ujarnya.
Saat ini keuntungan per bulan rata-rata Rp 3 juta hingga Rp 8 juta. Jenis ikan predator diantaranya impor. Mulai dari channa maru, auranti, pulcra, asiatika, dan yellow sentarum. ”Semua ikan ini dari bahasa lokalnya ikan gabus,” katanya.
Dijelaskan, harganya variatif disesuaikan dengan kualitas ikan. Semakin bagus harganya, bisa sangat tinggi. Dia mengambil contoh pada saat pertama memulai bisnis. Ketika itu, dirinya membeli ikan Auranti dari Kabupaten Sleman seharga Rp 300 ribu. Tidak menunggu lama, ketika sampai di rumah sudah ada yang berani menawar Rp 550 ribu. “Rp 600 ribu kami jual ikan saja, tidak termasuk aquarium,” ungkapnya.
Menurut Kismaya, bisnis ikan predator sangat menjanjikan. Modal tidak terlalu besar, perawatan mudah dan potensi kerugian kecil. Ikan predator tidak gampang mati. Tidak perlu mesin pompa udara gelembung angin.
“Satu bulan pengeluaran makanan ikan satu ekor sekitar Rp 10 ribu. Bisa jangkrik, umpan udang hidup, ulat jerman, dan ikan kecil,” terangnya.
Dikatakan, pembeli ikan predator bisa berasal dari sesama anggota. Namun juga sering dari luar komunitas. Setiap sepakan sekali, seluruh anggota berkumpul. Selain silaturahmi, selalu ada kabar baik dari pertemuan tersebut. “Salah satunya, setiap malam minggu kami kopdar dan ada acara bagi-bagi aquarium gratis,” ujarnya.
Kismaya pun menyampaikan kreteria ikan berkualitas baik. Untuk channa maru dilihat dari tebal bar, dorsal (sirip), dan warna pekat. Auranti dilihat warna, bentuk, dan sirip (godrong bagus besat). Pulcra warna semakin cerah paling dicari. Jenis Asiatika dilihat dari banyaknya mutiara dan bentuk ikan. “Jadi, harga mengacu pada kualitas ikan bukan ukuran,” ungkapnya.
Lebih jauh dikatakan, penggemar ikan predator belakangan mengalami peningkatan. Kebanyakan dari kalangan milenial. Anak-anak sekolah karena lebih banyak belajar daring, waktu luang dipergunakan untuk bisnis ikan.
“Kalau kendalanya karena harga mengikuti pasar ya. Kami akan lihat nanti ketika awal tahun ketika anak sekolah rencanannya KBM (kegiatan belajar tatap muka,Red) dampaknya seperti apa,” ucapnya. (gun/bah)
Editor : Editor Content