Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Lakukan Jamasan Pada Lima Pusaka

Editor Content • Senin, 7 September 2020 | 18:53 WIB
DIJAMAS - Abdi dalem Kraton Ngayogyokarto Hadingrat KRT Sarwo (kanan) menunjukkan benda pusaka yang dijamas di Bangsal Sewokoprojo Wonosari  (6/9) ( GUNAWAN/RADAR JOGJA)
DIJAMAS - Abdi dalem Kraton Ngayogyokarto Hadingrat KRT Sarwo (kanan) menunjukkan benda pusaka yang dijamas di Bangsal Sewokoprojo Wonosari  (6/9) ( GUNAWAN/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA - Benda pusaka milik Pemkab Gunungkidul dibersihkan atau dijamas. Kegiatan itu dilakukan untuk menjaga warisan budaya yang ada di ujung timur Provinsi DIJ.

"Jamasan pusaka dilakukan pada saat memasuki bulan Sura atau Muharram dalam penanggan Jawa dan Islam," kata abdi dalem Kraton Ngayogyokarto Hadingrat KRT Sarwo disela aktivitas jamasan di Bangsal Sewokoprojo Wonosari Minggu  (6/9).

Dia menjelaskan,  ritual membersihkan benda pusaka berjumlah lima dilakukan hanya dua orang abdi dalem. Dengan menggunakan meja panjang satu persatu tombak dibersihkan. Pemberishan dengan menggunakan air dan dioles mengunakan jeruk nipis, minyak kelapa, dan warangan (zat kimia), lalu dibersihkan kembali dengan air. "Ada lima tombak yang dibersihkan," ujarnya.

Masing-masing, tombak Kiai Margo Salurung, dan tombak Kiai Panjolo Panjul. Untuk ketiga tombak lainnya dia tidak mngetahui asal usulnya. Menurut dia, jamasan pusaka merupakan acara budaya.

"Harus dipertahankan secara turun temurun. Pusaka sebagai salah satu hasil budaya untuk menjaga agar tetapa awet harus dijamas," ucapnya.

Menurutnya, benda pusaka ini dulunya digunakan untuk berperang. dilakukan pembersihan dijemur di samping bangsal. Sekitar sepuluh menit kemudian pusaka kembali dibersihkan, dan dimasukkan kedalam kain pembungkus. "Menjemurnya pun tidak boleh terlalu panas maupun terlalu pagi," ujarnya.

Pemilihan hari pembersihan pusaka, karena pihak Keraton Ngayogyokarto Hadiningrat lebih dulu melakukan jamasan. Sebab, untuk pusaka yang diserahkan ke daerah harus dibersihkan setelah Keraton.

"Saya sudah 25 tahun menjadi abdi dalem, dan sudah lebih dari 15 tahun diperkenankan menjadi pembersih pusaka," ungkapnya.

Sementara itu, Dewan Kebudayaan Gunungkidul CB Supriyanto mengatakan, ritual budaya di Gunungkidul sebagian masih dipegang teguh masyarakat. Termasuk menjaga kelestarian benda pusaka, seperti tombak, keris, dan benda pusaka lainnya.

"Sebagai generasi penerus kita harus ikut andil dalam melestarikan budaya itu," kata CB Supriyanto. (gun/bah)

  Editor : Editor Content
#Gunungkidul #Pemkab Gunungkidul #Bersih Pusaka #jamasan #Dewan Kebudayaan