Berdasarkan data Dinas Tanaman Pangan (DPP) Kabupaten Gunungkidul, kapanewon penghasil kapas meliputi Karangmojo, Semanu, Ponjong dan Kapanewon Playen.
Musim panen tahun ini merupakan hasil tanam Febuari atau Maret setelah musim tanam pertama panen ditumpangsarikan dengan jagung dan kacang tanah.
"Pemerintah terus berupaya agar petani tak menyurutkan minatnya dalam memproduksi kapas, salah satunya dengan membangun kemitraan petani kapas dengan perusahaan pengelola," kata Kepala Bidang Tanaman Pangan, DPP Gunungkidul Raharja Yuwono saat dihubungi Minggu (16/8).
Dikatakan, pemerintah berupaya menjembatani petani dengan pengelola serat kapas sehingga bermitra dengan industri tekstil untuk menjadi industri siap pakai. Kegiatan tersebut melalui Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi DIJ.
Sementara itu, Kepala DPP Kabupaten Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto menegaskan, para petani dan kelompok tani (poktan) harus berusaha mensiasati iklim kering agar tetap bisa berusaha tani yang menguntungkan, sehingga menambah kesejahteraan. Seperti beberapa poktan di Playen yaitu poktan Tani Manunggal, Menggoran , Bleberan, Playen dan poktan AGRA, Ngleri, Playen. Mereka pada musim tanam kedua mengusahakan budidaya tanaman kapas yang ditanam tumpangsari dengan jagung dan kacang tanah.
Menurutnya, kegiatan pengembangan kapas dibiayai oleh Kementerian Pertanian untuk pembelian saprodi dan bimbingan teknis. Benih kapas menggunakan varietas Kanesia. Dengan pola tumpangsari, tanaman kapas tidak mengurangi populasi jagung dan kacang tanah yang ditanam, sehingga kapas akan memberikan tambahan pendapatan Rp 5, 3 juta per hektarnya, dengan perhitungan harga kapas Rp 5.300 per kilogram.
"Total pendapatan petani dari jagung, kacang tanah dan kapas bisa mencapai Rp 21 juta per hektar pada musim tanam kedua," ungkapnya.
Terpisah, Ketua Poktan Tani Manunggal, Playen Rohmadi mengatakan, hasil kapas tahun ini menggembirakan karena didukung iklim curah hujan yang mencukupi untuk tanaman kapas sampai berbunga. Pada 2017, 2018, dan 2019 curah hujan kurang sehingga kapas kurang berhasil. Pola budidaya yang diusahakan adalah tumpangsari kapas dengan jagung dan kacang tanah. "Hasil untuk satu hektar lahan dengan sistem tumpangsari didapat 1 ton pipil kering jagung, 0,5 ton wose kacang tanah dan kapas didapat 1 ton," kata Rohmadi. (gun/bah)
Editor : Editor Content