Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Gunungkidul Bahron Rasyid menyikapi keraguan wali murid maupun siswa yang pilih-pilih sekolah.
”Nanti kualitas guru dan fasilitas sekolah dirasa telah setara,” kata Bahron Rasyid kemarin (1/7).
Itu artinya, siswa memperoleh pendidikan yang sama. Di mana pun sekolahnya. Siswa pintar bakal tetap berprestasi. Sedangkan siswa dengan kemampuan akademik biasa bakal dididik dengan ekstra.
”Jadi, masyarakat sekarang tidak terpaku pada sekolah favorit,” pesannya.
Menurut Bahron, keyakinan itu bukan omong kosong. Itu bisa dilihat dengan kualitas guru. Kualitas guru di Bumi Handayani seragam. Baik yang mengajar di sekolah favorit maupun pinggiran.
”Beberapa guru pinggiran dikirim ke China, Jepang, Belanda. Guru pinggiran juga sudah mampu bersaing dengan yang lain,” ungkapnya.
Senada diungkapkan Kepala SMPN 3 Wonosari Mulyadi. Menurutnya, kebijakan zonasi harus diiringi dengan meningkatkan kedisiplinan siswa. Cara itu bisa memacu semangat belajar.
”Dengan demikian, prestasi siswa mampu diraih dan ditingkatkan,” katanya.
Anggota Komisi D DPRD Gunungkidul Heri Nugroho sebelumnya mengatakan, SMAN 1 dan SMAN 2 merupakan sekolah favorit. Mayoritas orang tua di Gunungkidul ingin menyekolahkan di salah satu dua sekolah itu.
”Namun dengan adanya aturan sistem zonasi tetap ada plus minus. Ada anggapan dari sebagian wali murid atau anak bahwa jumlah nilai tidak penting, karena kemungkinan besar diterima,” katanya. (gun/zam/fj) Editor : Editor News